22 Mei 2020 14:15

Membaca Tanda-tanda Corona

MyPassion
Paul Richard Renwarin

MANADOPOST.ID--Semenjak wabah virus corona atau covid-19 ini merebak pada bulan Desember 2019 di kota Wuhan, propinsi Hubei, di China, sudah banyak ulasan mengenai virus ini dari pelbagai sudut pandang, entah dari sudut pandang virologi, epidemiologi, kesehatan, ekonomi, politik, sosial, budaya dan juga dari sudut pandang agama (baik Islam, Kristen, dll.). Pada kesempatan ini saya akan menyoroti pengalaman seputar corona ini dari sudut pandang teologi ekologi, yang bertumpu pada ensiklik Laudato Si dari Sri Paus Fransiskus, 24 Mei 2015.

Tremendum et fascinosum.

Berhadapan dengan wabah virus corona ini mencuatlah pengalaman religius manusiawi, yang Rudolf Otto katakan bercorak tremendum et fascinosum, menakutkan tapi serentak mengagumkan. Memang yang paling banyak dialami ialah pengalaman menakutkan, karena virus, yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang ini, mampu dalam waktu singkat menebar penyakit pernapasan yang akut dan sampai-sampai menyebabkan kematian bagi ribuan orang di 210 negara di bumi; serentak virus super kecil ini mampu untuk membuat para pelajar meninggalkan sekolah dan kampusnya, para pekerja dan karyawan menutup ruang kerjanya untuk mengurung diri di rumah dan belajar serta bekerja di sana. Jalan-jalan sepi, transportasi lumpuh, dan hampir semua kegiatan ekonomi terhenti, malahan kegiatan keagamaan sendiri dipaksa untuk dilaksanakan secara individual atau keluarga di rumah.

Tidak banyak tercetus pengalaman mengagumkan (fascinosum) tentang daya hidup molekul yang bermahkota ini yang pada dirinya sendiri sebenarnya cepat mati bila tidak mendapati media yang sesuai, tapi sebaliknya bila mendapatkan media yang pas virus super kecil ini dalam hitungan hari bisa memperbanyak dirinya jutaan kali dan berekspansi menduduki seluruh rongga dada manusia, malahan bisa berpencar ke luar untuk mencari lagi lahan yang subur untuk berkembang.

Apakah Allah murka?

Di tengah pengalaman yang sangat menakutkan ini tapi juga mengagumkan, muncul pertanyaan di manakah Allah?  Apakah Allah itu tidak mendengarkan doa-doa yang diserukan oleh para penganut agama-agama dunia dari pelbagai penjuru, yang malahan sudah semakin digaungkan dengan memakai loudspeaker toa berkali-kali dalam sehari? Apakah wabah ini memang dikehendaki Allah, karena Dia murka terhadap manusia jaman now, seperti terucap dalam salah satu doa di saat epidemi dan wabah, “semoga hati yang fana dapat mengakui bahwa semua ini dapat datang karena murka-Mu dan dapat pula berakhir hanya ketika Engkau berkenan untuk mengasihani”? Apakah ini takdir, alias katulah, dari Allah, yang disebabkan karena manusia sudah tidak lagi peduli kepada Allah dan berdosa terhadap-Nya?

Dan kalau memang demikian, maka sikap manusia itu haruslah takwa terhadap hukuman Allah ini; seperti yang diungkapkan H.Faishal Zaini dalam artikelnya ‘Cara agama melawan wabah’ (Kompas, 14 April 2020), “cara terbaik ialah dengan menerima apa adanya sebagai sebuah takdir dan keniscayaan. Tidak perlu takut terhadap wabah, sebab hidup mati sudah digariskan oleh-Nya’. Ini sama seperti tokoh Paneloux dalam novel La Peste dari Albert Camus, yang dikutip oleh Yongki Karman dalam artikelnya ‘Antropodise Wabah’ (Kompas 13 April 2020), yang melihat wabah sampar sebagai hukuman Tuhan secara kolektif untuk menundukkan keangkuhan manusia; Tuhan selalu benar (teodise), dan justru manusia harus terima azab dan introspeksi diri.

Di lain pihak terdapat sementara kalangan yang mencari jawaban terhadap wabah ini bukan kepada Allah, melainkan lewat penalaran akal budi. Misalnya tokoh Bernard Rieux, yang dikutip oleh Yongki Karman (Kompas, 13-4-2020), ‘seorang dokter muda yang awam dalam teologi, yang menegaskan bahwa Paneloux berbicara atas nama kebenaran, sementara dia mengikuti jalan kebenaran dengan berjuang sekuat tenaga melawan wabah’. Dan soalnya bukan antara takut akan Tuhan (sang Pencipta) atau takut virus (bagian dari alam ciptaan); tindakan memerangi wabah tak berarti melawan takdir atau rencana Tuhan.

Karena itu jawabannya harus dicari berdasarkan akal budi, khususnya lewat ilmu pengetahuan. H. Faizhal Zaini menegaskan, ‘agama adalah keyakinan, bukan berarti beragama mengeliminir akal sehat dan logika. Akal yang waras tentu saja memiliki radar yang tajam untuk membedakan antara konsep takwa dalam arti berserah kepada Allah dan keberanian untuk sekedar mati konyol (=pseudo takwa)’. Sikap demikian seakan-akan mengesampingkan Allah dalam usaha untuk memahami pengalaman seputar wabah ini.

Dalam tulisan ini saya tidak akan masuk dalam diskusi tentang soal murka Allah dan takdir atau soal penjelasan kebenaran lewat akal budi dan logika serta ilmu pengetahuan, tetapi saya ingin mendalami sudut pandang-pespektif atau kaca mata mana yang (bisa) dipakai dalam pengalaman wabah ini.

Sudut pandang-perspektif-kacamata: KUASA.

Paham tentang murka Allah, takdir, katulah serta takwa sebenarnya dilatarbelakangi oleh paham kuasa, yaitu bahwa Allah adalah yang mahakuasa, karena Dia-lah yang menciptakan seluruh isi alam semesta, yang bebas melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Dasar paham ini terdapat dalam Kitab Kejadian 1:1- 2:7, Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya, dan “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kej. 1:3).

Isinya ialah alam semesta, flora dan fauna, serta manusia yang merupakan ciptaan yang paling tinggi. Dalam kisah penciptaan ini sudah tersirat adanya relasi dan keterhubungan yang erat antara Allah, manusia, dan alam lingkungan. Tetapi relasi dan keterhubungan ini cenderung ditafsirkan bagaikan dijiwai dengan kuasa, yang mengakibatkan keterhubungan ini bercorak hirarkis: Allah menempati posisi tertinggi (Yang Mahakuasa), manusia mendapat tempat yang kedua, sementara alam lingkungan itu menempati posisi terrendah; berfirmanlah Allah,

“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kejadian 1:26). Kemudian “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian 1: 28).

Interpretasi tentang kuasa untuk menaklukkan bumi ini sudah memperlakukan isi alam lingkungan itu sebagai obyek yang ada demi kepentingan dan keuntungan manusia, malahan lewat paham kapitalisme manusia mengeksploitasi alam lingkungan semaksimal mungkin demi dirinya sendiri (khususnya diri si pemilik modal).

Sikap manusia penguasa ialah beroposisi dengan alam lingkungan ini, malah menjadikannya sebagai obyek untuk kebutuhan manusia sebagai subyek, malahan melahirkan paham dan tindakan yang lebih keras lagi terhadap suatu bagian dari alam lingkungan yang menghalang dan mengganggu manusia, yaitu: sikap melawan, berperang melawan. Dan, seperti biasa terjadi, sikap dan tindakan melawan dan berperang itu akan mengikut-sertakan pelbagai perang sampingan antara pelbagai kuasa yang terlibat. Inilah yang kita dapat amati dalam pengalaman dengan covid-19.

Pada awal wabah ini ditemukan oleh dokter Li di Wuhan, dia justru didiamkan oleh penguasa setempat karena berita ini pasti akan menghebohkan, merepotkan, dan mengubah kebiasaan hidup masyarakat; tapi saat wabahnya memang menjadi epidemi nasional, dokter penemu, yang akhirnya meninggal karena covid-19 ini, diangkat dan dihargai menjadi pahlawan.

 Kemudian wabah ini menular sampai ke Eropa melalui Italia, dengan memakan korban ribuan orang, sehingga W.H.O menaikkan status dari epidemi menjadi pandemic agar masing-masing negara mengambil tindakan untuk menghentikan penularan wabah ini. Justru virus corona ini dijadikan musuh yang tersembunyi (invisible enemy) dan ‘kita harus berperang melawan corona’; dan memang tindakan ‘perang’ yang diambil dengan mengerahkan seluruh angkatan bersenjata di masing-masing negara, dinas inteligensi pun diaktifkan.

Di Indonesia ditunjuk seorang berpangkat letnan jenderal, yang memimpin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk memimpin ‘perang’ ini, dan karena itu beberapa kali dia tampil dengan pakaian dinas lapangan yang lengkap. M. Jusuf Kalla pun, dalam artikelnya berjudul ‘Segitiga virus korona’ (Kompas, 9 Mei 2020) mengusulkan tiga strategi ‘perang’ yaitu: bertahan (dengan lockdown dan stay at home, work from home), menyerang (dengan menangani yang terpapar) dan perkuat tenaga medis-paramedis.

Ternyata sesudah beberapa minggu berselang ‘perang’ melawan pandemi virus ini belum mampu menghalaukan ketakutan massal, mengeliminir korban, dan mengembalikan rasa aman dan nyaman bagi warga. Malahan ‘perang melawan corona’ ini memicu pelbagai jenis ‘perang’ baik di tingkat lembaga (penelitian), negara, pun hubungan antar negara. Presiden Donald Trump pernah menyebut corona ini sebagai “Chinese virus”, dan karenanya berlangsung debat diplomatik antara China dengan USA, dan kemudian dengan Uni Eropa, tapi pada tanggal 12 Mei 2020 gubernur New York menyebut corona ini dengan nama baru “European virus”; ini punya konsekwensi politik dan finansial bagi yang dituduh menjadi sumber pandemi. Perebutan ‘kuasa’ dalam ‘perang’ ini berlangsung juga di kalangan para peneliti virus; terjadi lomba dan persaingan siapa yang lebih dahulu menemukan vaksinnya, Karena itu beberapa minggu lalu dengan bangga Donald Trump mengklaim bahwa obat antivirus ini sudah ditemukan di USA, yaitu chlorofin, walaupun terbukti negara ini yang mempunyai korban terpapar dan meninggal yang paling tinggi di dunia.

Sementara itu antara para peneliti virologis di USA berlangsung ‘perang’ terselubung antara Dr. Anthony Fauci, pimpinan gugus tugas lawan covid-19, yang mengatur kebijakan pemerintah untuk melawan epidemi ini, berhadapan dengan Dr. Judy Mikovits, penemu obat anti HIV/AIDS dan bekas rekan kerja dan anak buah dari Dr. A. Fauci, yang dipenjarakan karena berbeda pendapat dengan pimpinannya, yang bisa mengakibatkan kerugian finansial yang besar dan kehilangan reputasinya. Di tingkat komunitas warga pun berlangsung ‘perang’-silang pendapat antara para dokter, para ahli herbal, dan para pakar jamu tradisional tentang obat dan cara penyembuhan yang paling manjur.

Tokh, sampai sekarang ‘perang untuk mematikan virus’ yang super kecil ini belum berhasil, biarpun lebih dari 25% dari mereka yang positif tertular mengalami kesembuhan; yang masih tetap bergaung ialah ketakutan dan kecemasan massal, jangan-jangan ‘saya’ akan tertular dan menjadi korban, karena ‘saya tidak punya kuasa’. Ari Kuncoro (dalam ‘Korona dan ketahanan ekonomi’, Kompas, 28 April 2020) menegaskan, ‘perang kilat (blietz krieg) melawan pandemi sukar terwujud; yang akan terjadi adalah perjuangan yang membutuhkan kesabaran melalui perang semesta dengan semua sumber daya yang ada (all-out)’.

Sudut pandang-perspektif-kacamata: Adaptasi dan HARMONI.

Bila membaca dan merenungkan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian (Bab 1 dan 2) dengan lebih jeli, akan muncul suatu perspektif yang lain mengenai hubungan antara Allah, manusia, dan alam ciptaan ini. Allah itu memang yang Mahakuasa, yang sudah menciptakan seluruh jagad raya, tetapi serentak Dia itu mahaKasih, sebagaimana Mazmur 136: 6 mengajak manusia untuk memuji Allah Pencipta “yang menghamparkan bumi di atas air! Kasih-Nya kekal!”.

Dan Allah bukan hanya memberikan mandat kepada manusia untuk “menaklukkan” bumi (lihat Kej. 1: 28), tetapi juga untuk “mengusahakan dan memeliharanya” (lihat Kej. 2: 15). Selanjutnya dalam ensiklik ‘Laudato Si’ (LS no. 67) ditegaskan demikian, “kita bukan Allah. Bumi sudah ada sebelum kita dan telah diberikan kepada kita….  Sementara ‘mengusahakan’ berarti menggarap, membajak, atau mengerjakan, ‘memelihara’ berarti melindungi, menjaga, melestarikan, merawat, mengawasi. Artinya, ada relasi tanggung jawab timbal balik antara manusia dengan alam’.

Selanjutnya dalam nomor 68 ditegaskan bahwa: ‘Tanggung jawab untuk bumi milik Allah ini menyiratkan bahwa manusia yang diberkati dengan akal budi, menghormati hukum alam dan keseimbangan halus yang ada di antara mahluk-mahluk di dunia ini, sebab “Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta. Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar” (Mazmur 148: 5b-6). Itulah sebabnya hukum-hukum Alkitab memberi manusia berbagai norma, bukan hanya berkaitan dengan sesama manusia, tetapi juga berkaitan dengan makhluk-makhluk hidup lainnya’ (Contohnya dalam Ulangan 22: 4,6).

Tersirat dalam kitab Kejadian 1 dan 2 ini bahwa proses penciptaan dari Allah itu masih sedang berlangsung, belum selesai, dan sedang menuju kepada kesempurnaan. Disebutkan bahwa sesudah setiap makhluk diciptakan, ‘Allah melihat bahwa semuanya itu baik’; ‘baik’ ini tidak otomatis berarti ‘selesai dan sempurna’.

Setiap makhluk sementara dalam proses berkembang menuju ke kesempurnaan, dan justru karena itu manusia diminta untuk menjadi pencipta bersama Allah (=co-creator) dengan ‘menguasai, mengusahakan, dan memelihara’ alam ciptaan ini. Sehubungan dengan ini ensiklik Laudato Si nomor 69 menegaskan bahwa ‘sementara kita dapat menggunakan aneka barang dengan cara yang bertanggung jawab, kita dipanggil untuk mengakui bahwa makhluk-makhluk hidup lainnya memiliki nilai intrinsik di hadapan Allah, dan “dengan keberadaan mereka saja sudah memuji dan memuliakan-Nya”, karena “Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya” (Mazmur 104: 31).

Justru karena martabatnya yang unik dan karena diberkati dengan akal budi, manusia dipanggil menghormati ciptaan dengan hukum-hukumnya karena “dengan hikmat Tuhan telah meletakkan dasar bumi” (Amsal 3: 19). Dewasa ini Gereja tidak begitu saja mengatakan bahwa makhluk-makhluk lain sepenuhnya ditundukkan kepada kepentingan manusia, seolah-olah mereka tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri dan kita dapat memperlakukannya semau kita”.

Terdapat beberapa hukum alam yang secara praktis mempengaruhi relasi antara semua makhluk di bumi, termasuk manusia, yaitu: harmoni, keseimbangan, keselarasan, kemampuan hidup dan berkembang, kemampuan beradaptasi, dan juga daya dukung alami (=carrying capacity of the nature), serta prinsip ‘survival of the fittest’. Usaha untuk ‘mematikan-memusnahkan’ virus yang tak kelihatan ini nampaknya masih butuh waktu yang lama, untuk tidak mengatakan mustahil (seperti ditegaskan oleh W.H.O pada tanggal 14 Mei 2020 via televisi); pengalaman menghadapi sampar, tbc, lepra, malaria, demam berdarah dengue, ebola, influenza, dsb., ternyata belum mampu memusnahkan virus dan bakteri penyebabnya. Tindakan yang langsung dapat (dan sementara) dilaksanakan ialah mencegah penularan wabah ini, ‘membentengi’ diri dengan meningkatkan kekebalan tubuh dan antibody, mempersempit ruang lingkup penularan dengan tidak menyiapkan media pendukung virus ini dan penyebarannya.

Secara praktis strategi pengembangan ‘herd immunity’, seperti yang dikemukakan oleh Beben Benyamin dalam artikelnya ‘Herd Immunity dan penanggulangan covid-19’ (Kompas, 13 April 2020) dan Iqbal Mochtar, ‘Herd Immunity, jalan keluar?’ (Kompas, 5 Mei 2020), nampaknya merupakan cara yang lebih ekologis, sementara para ahli virus mengupayakan penemuan vaksin yang tepat untuk mencegah penularan wabah ini.

Pertobatan Ekologis.

Istilah ‘pertobatan ekologis’ dari ‘dosa ekologis’, seperti yang sudah dipakai dalam kotbah Kardinal Ignatius Suharyo pada Misa Minggu Paskah online-live streaming lewat TVRI nasional pada tanggal 12 April 2020, merupakan hal yang baru; sudah sangat lasim dipahami bahwa dosa dan pertobatan itu bercorak individual, bergantung pada masing-masing pribadi. Pertobatan ekologis bukan hanya terarah pada dosa individual dan relasi antar manusia saja (lewat ‘dosa sosial’ atau ‘dosa struktural’) tetapi juga pada relasi antar manusia dengan alam ciptaan.

Dalam kitab Kejadian bab 3 dikisahkan tentang godaan sang ular yang menyebabkan manusia jatuh dalam dosa, yaitu suatu sikap batin begini, “jika kamu memakannya, kamu akan menjadi seperti Allah” (bdk. Kejadian 3:4); godaan ular ini menyingkapkan simpul yang sulit dilepas dalam alur sejarah: “jika kamu memiliki, kamu akan menjadi; kamu akan mendapatkan…” (Bdk. Surat kegembalaan Sri Paus Fransiskus pada hari Komunikasi Sosial sedunia, 24 Mei 2020).

Sikap batin ini menopang keinginan untuk berkuasa dan menguasai dalam diri setiap manusia, dan ini menjadi sudut pandang-perspektif-kaca mata dalam berelasi dan bertindak, sehingga manusia tidak hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi berusaha keras untuk memenuhi semua keinginannya. Dalam hal inilah godaan untuk berkuasa-memiliki-menaklukkan menumbuhkembangkan dosa structural-kolektif-ekologis, karena masing-masing manusia mengambil bagian dalam tindakan penaklukan sesama manusia dan juga alam ciptaan ini.

Saat pelbagai pemerintah mengambil kebijakan lockdown, stay at home, work from home, menjadi nyata kondisi hidup manusia yang sudah diciptakan bersama, yaitu a) adanya pembagian ruang yang unik, yaitu: physical distance (‘yang jauh menjadi dekat, sedangkan yang dekat menjadi jauh’; misalnya relasi dalam keluarga semakin jauh), social distance (semakin banyak orang senang saling menyentuh badan, entah lewat jabat tangan, cipika-cipiki dengan sesama di luar keluarga batih), dan juga digital distance (jumpa lewat media sosial lebih mudah daripada tatap muka langsung); b) terbanyak kegiatan individu berada di luar rumah, dalam lingkungan lembaga, misalnya sekolah, dunia usaha, kantor, dsb dan di jalan-jalan di perkotaan; c) sarana transportasi dan komunikasi semakin menjejali bumi untuk memindahkan manusia dari suatu tempat ke tempat yang lain, tapi serentak meninggalkan polusi asap yang menebal di atmosfer; d) kesenjangan yang besar antara mereka yang berkesempatan menikmati kemewahan di pusat-pusat bisnis, hiburan dan pariwisata, dengan mereka yang miskin, merana, terpinggirkan, dan korban penindasan dari yang kaya; e) bumi semakin terpolusi dengan asap, plastik, dan menjadi gurun yang gersang, serta panas; f) manusia semakin tergantung pada mesin, temuan iptek, yang malahan sudah membangun artificial intelligence (yang mempermudah dan bisa menggantikan kerja otak manusia) dan virtual reality (sehingga realitas hidup sudah bercampur dengan yang tak nyata). Manusia pun semakin dihitung sebagai konsumen atau pelanggan yang tergantung pada perusahan-perusahan multinasional, atau hanya dikenal sebagai satu anggota di tengah kerumunan massa.

Sampai hari ini pun, semua yang terpapar virus corona ini umumnya hanya dikenal dan ditandai dengan nomor saja, berapa yang tertular, berapa yang sembuh, dan berapa banyak yang meninggal; pun yang meninggal itu dibiarkan sendirian tanpa didampingi oleh kaum keluarganya. Inilah bumi manusia dan corak hidup yang sudah semakin mengasingkan diri manusia itu sendiri sebagai manusia yang bermartabat.

Karena itu, misalnya bupati di Bolaang-Mongondow Timur, mengajak warganya untuk patuh pada peraturan pemerintah tentang penanganan covid-19 dengan memberikan tawaran ini: “Mau pilih yang mana? Tinggal di rumah sendiri, atau tinggal sendiri di rumah sakit, atau langsung sendiri menuju rumah Bapa?”

Pembaharuan habitus hidup.

Suatu pertobatan selalu harus diikuti dengan suatu pembaharuan diri; ‘kita bertobat dari…, dan beralih ke …’ Situasi lockdown, stay at home, dan work from home, sudah membawa kesadaran kepada masing-masing keluarga batih bahwa habitus hidup keluarga dan relasi personal antar anggota keluarga merupakan hal yang paling mendasar dan berharga yang ditemukan kembali; begitu pula orang tua mendapat kembali tanggung jawab mendasar untuk pendidikan anak-anaknya, demikian juga Allah dijumpai dalam ibadah bersama seluruh anggota keluarga di rumahnya (Bdk. Mateus 6: 5-6).

Banyak keluarga petani mulai memperhatikan kebunnya yang sudah lama terbiar, karena desakan mencari upah kontan sebagai buruh di kota. Di perkotaan orang mulai memperhatikan dan mengenal tetangga-tetangga mereka, dan muncul suatu solidaritas antar warga setempat. Apakah situasi dan kondisi ini memacu suatu kesadaran baru untuk memperbaharui habitus hidup dan bukan hanya terpaksa karena pandemik ini?

Dalam kotbah Paskah dan berkat Paskahnya urbi et orbi tahun 2020 secara daring, Paus Fransiskus mengatakan salah satu anugerah kebangkitan Kristus Yesus ialah harapan akan masa mendatang yang menyelamatkan dan berbahagia. Pasca-covid 19 ini corak berelasi antara manusia dengan Allah, antara sesama manusia, dan antara manusia dengan alam ciptaan diharapkan akan menjadi baru, akan tercipta suatu keseimbangan hidup, keselarasan, harmoni, sesuai dengan daya dukung alamiah, karena semangat solidaritas, kerja sama, gotong-royong, bela rasa, sudah semakin dikembangkan di tengah penjarakan/pembatasan sosial (physical and social distancing).

Nampaknya kehidupan pasca-covid19 ini mulai mengarah pada Revolusi 5.0. yang lebih mengutamakan personalisasi (Personalization) manusia, sesudah Revolusi 4.0 yang menekankan digitalisasi. Dengan demikian manusia akan menemukan kembali martabatnya sebagai ciptaan yang istimewa oleh Allah, dan kembali hidup rukun bersama Allah dan seluruh alam ciptaan-Nya tanpa ketakutan dan kecemasan.

We shall overcome someday.

Kirim Komentar