16 Mei 2020 12:18

Ahli Epidemiologi: Stop Langgar Protap Kesehatan, Kurva Covid-19 Baru Menanjak

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOST.ID--Jumlah pasien positif Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) terus bertambah. Jumat (15/5) kemarin menembus angka 105. Meningkat drastis dari sebelumnya yang menyentuh 83 kasus. Ahli Epidemiologi Sulut menyebutkan ini disebabkan banyak faktor.

Berikut penuturan Ahli Epidemiologi Prof dr Grace Kandou. Katanya salah satu faktor disebabkan perilaku masyarakat sendiri. “Terkait situasi Covid-19 yang meningkat cukup drastis hari ini (kemarin), karena banyak faktor. Antara lain dari masyarakat sendiri yang masih banyak ‘kepala batu’ (anggap enteng, red). Belum melakukan protap Covid-19 seperti dianjurkan pemerintah," tegasnya.

Lanjutnya, di Sulut kurva epidemiologinya baru mulai menanjak. "Dan memang sesuai prediksi saya yang lalu, bahwa Sulut justru baru mulai menanjak kalau di kurva epidemiologinya,” tegasnya mengapresiasi pemerintah yang telah melakukan penanganan yang baik. “Hasil lab Swab PCR sudah sangat membantu. Karena semakin cepat hasilnya diterima, sebab sudah diperiksa oleh lab di Manado. Pemda juga sudah bergerak semakin cepat, dengan melakukan pemeriksaan secara massif kepada masyarakat dengan rapid test massal,” terang Prof Kandou.

Prof Kandou juga mengapresiasi tes massal. Karena semakin cepat terdeteksi sampai mana rantai penularannya. “Meskipun tak bisa disangkal, masih ada beberapa kasus yang belum ditemukan sumber penularannya dari mana? Nah, kasus-kasus demikian yang perlu diwaspadai. Karena rantai penularannya sulit untuk di-tracing atau diikuti. Sehingga berpotensi masuk pada kasus yang sulit dikendalikan,” ungkapnya.

“Namun pemda lewat instansi terkait, Dinkes provinsi/kota/kabupaten, lewat nakes puskesmas di wilayah kerjanya, sudah bekerja keras untuk melakukan penyelidikan epidemiologinya, sesuai protap yang berlaku,” sambung Prof Kandou.

Dengan ditemukannya kasus-kasus terkonfirmasi Covid-19, berarti tim tenaga kesehatan (nakes) patut diapresiasi karena sudah berhasil menemukan kasus tersebut. Sebab semakin cepat ditemukan kasus, berarti semakin baik penangananya. “Karena ingat kita ini bagaikan beradu cepat dengan Covid-19 tersebut,” tegasnya.

Dia menegaskan, pemutusan mata rantai penularan Covid-19 memang harus cepat dilakukan. “Apalagi saat ini, semakin banyak OTG (orang tanpa gejala) yang berkeliaran di mana-mana. Yang potensi menularkan Covid-19 kepada siapa saja yang sempat kontak,” ungkapnya, menambahkan masyarakat harus lebih sadar situasi saat ini. “Faktor perilaku masyarakat yang sangat penting. Kepedulian yang tinggi untuk sadar, melakukan protap Covid-19 di manapun dan kapanpun itu. Social distancing, jaga jarak, pakai masker, hindari kerumunan orang dan pertemuan-pertemuan yang berpotensi tertular Covid-19. Melakukan pola perilaku hidup bersih sehat, untuk tetap menjaga imunitas tubuh,” ungkapnya.

Terpenting, tegas Kandou, jangan menganggap enteng Covid-19. “Janganlah lengah ataupun pandang enteng, tidak pakai masker. Karena menganggap orang yang ditemui sudah dikenal. Padahal aktivitas mereka tidak diketahui, faktor ini juga turut memicu peningkatan kasus Covid-19,” katanya, mengajak masyarakat untuk patuh terhadap cara penanganannya. “Marilah lakukan dan patuhilah semua anjuran untuk mencegah. Jangan hanya sekadar dibaca dan diketahui, namun praktiknya tidak dilakukan," tegas Kandou.

Dia mengingatkan agar semua pihak waspada. Termasuk kepada para nakes. “Untuk nakes juga tetap harus waspada dalam menjalankan tugas. Pakailah APD yang sesuai standartnya. Dan yang beraktivitas di pasar, wajib pakai masker. Serta jangan takut untuk ikut dalam pemeriksaan Rapid Test massal, dalam rangka screening," tandas Prof Kandou.

Diketahui, penanganan Covid-19 di Provinsi Sulut terus dilakukan. Koordinasi pemerintahan serta forkopimda terus dibangun untuk melakukan evaluasi terkait penanganan Covid-19. Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) menerangkan kesiapan dua labotatorium Polymerase Chain Reaction (PCR) di Sulut untuk mempercepat diagnosa dan penentuan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Sehingga tenaga medis dapat segera memberikan penanganan yang tepat. Kedua laboratorium PCR tersebut berada di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Manado dan RSUP Prof Kandou.

“Dalam rangka menjaga penambahan penyebaran covid-19 di Sulut, saya informasikan juga ada dua laboratorium PCR yang kami siapkan satu sudah mulai beroperasi pertama di BTKLPP Kelas 1 Manado dan yang satu lagi di RSUP Prof Kandou, sudah full beroperasi,” jelasnya.

Selain itu, OD juga menerangkan Sulut belum mengusulkan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kepada pemerintah pusat. Menurutnya, PSBB berdampak pada sektor perekonomian dan pelaksanaannya harus didukung penuh oleh kesiapan seluruh kabupaten dan kota di Sulut.

“Banyak orang mengusulkan saya PSBB , tetapi dampak PSBB ini kan kita tahu persis semua, pasti ekonomi tidak bergerak. Kami sudah dua kali kami kirim surat ke gugus tugas kabupaten/kota meminta informasi pergeseran anggaran mereka dipergunakan untuk apa saja, sampai hari ini kami belum dapat balasan surat dari kabupaten/kota," tuturnya.

OD juga mengingatkan pentingnya kesiapan semua pihak mencegah penyebaran covid-19 pasca dibukanya kembali jalur transportasi antar daerah di Indonesia dengan mengisolasi penumpang di rumah singgah. "Salah satu contoh kemarin kita kedatangan pekerja asal Sulut dari Maluku Utara. Langkah-langkah ini sangat efektif kita ambil, seluruh 110 penumpang kapal kita masukkan dalam rumah singgah dan semua efektif, dua minggu kita laksanakan ternyata tidak ada penyebaran waktu kita karantina," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Biro Pemerintahan dan Otda Pemprov Sulut, penanganan Covid-19 saat ini terus dilakukan secara maksimal. "Pemprov Sulut itu sesuai dengan instruksi pimpinan, terus melakukan penanganan. Yang pasti sesuai koordinasi, laboratorium dan tim surveilans terus melakukan pekerjaan sesuai tupoksi dengan protap yang telah diatur," tandasnya.(ctr-02/ewa/gnr)

Kirim Komentar