04 Mei 2020 09:43
Ramadan di Kampung Jawa Tondano

Covid-19 Mengubah Tradisi Bulan Puasa

MyPassion
Pedagang takjil yang biasanya jualan berjejer di sisi jalan, tahun ini berjualan di teras rumah karena penerapan social distancing. (LERBY TAMUNTUAN/MP)

Dari kelurahan kecil di bagian Barat Tondano, Kabupaten Minahasa, terdapat satu wilayah yang menjadi pusat kunjungan saat bulan Ramadan. Kelurahan tersebut bernama Jawa Tondano (Jaton) atau biasa disebut Kampung Jaton.

Laporan: Lerby Tamuntuan, Jawa Tondano

KAMPUNG Jaton sendiri berdiri setelah pengasingan Kyai Modjo dan pengikutnya oleh Belanda. Di tahun 1830, para pengikut yang diasingkan membangun pemukiman yang kini bernama Kampung Jaton. Masjid Al Falah ini sendiri dibangun tahun 1860. Di tahun 1880, pengikut yang diasingkan ini memohon kepada pemerintah Belanda untuk tinggal karena mereka sudah kawin-mawin dengan warga lokal.

Di tahun 1884 Kampung Jaton memilih Hukum Tua pertamanya yaitu Kiayi Ghazali Mojo. Hingga kini warga kampung Jaton terus mempertahankan tradisi dan budayanya di tengah-tengah umat non muslim Minahasa. Namun, toleransi antar umat beragama sangat kental sehingga tidak pernah terjadi perselisihan apalagi yang berbau SARA.

Umat Muslim Jaton sejak dulu hidup damai berdampingan bersama masyarakat Kabupaten Minahasa lainnya yang menganut Kristen. Kelurahan Jaton memiliki penduduk 2.651 jiwa dengan 725 kepala keluarga (KK).

Masyarakat Muslim di Jaton sebanyak 80 persen keturunan Jawa dan 20 persen lagi suku lain, yakni Makasar, Sumatera, Maluku dan lainnya. “Yang berbeda pada saat ini di tengah pengaruh Pandemi Covid-19, suasana bulan Ramadan terasa kurang semarak dalam artian aktivitas masyarakat seperti kampung Ramadan, buka puasa bersama, sholat taraweh berjamaah bahkan Sholat Jumat pun dihentikan sementara,” ungkap Lurah Jaton Suri Mertosono kepada Manado Post.

Dikatakannya lagi, saat ini pengamanan sangat intens dilakukan pemerintah Kelurahan ditambah personel TNI/Polri serta masyarakat kelurahan tetangga. “Pengamanan bulan Ramadhan turut diikuti saudara Nasrani yang ada di Kecamatan Tondano Barat sekaligus Polres Minahasa serta Kodim 1302 Minahasa,” beber Mertosono lagi.

Memang diketahui toleransi yang terjalin sangat kental di Minahasa. Apalagi di Bulan Ramadan. Masyarakat sekitar Jaton malah sangat memanfaatkan bulan Ramadan dengan ikut meramaikan jajanan takjil yang biasa dijual. Tapi kali ini di tengah Pandemi Covid-19 suasana tersebut tak tampak. “Kami kalau Ramadan tiba, pasti setiap harinya akan berkunjung ke kampung Jawa, karena di sana akan tersaji beragam makanan berat maupun makanan ringan. Namun di tengah mewabahnya Virus Corona suasana kali ini memang terasa berbeda,” ujar Marchel Wolayan, yang merupakan warga Nasrani berdomisili di Kelurahan Luaan berbatasan langsung dengan Jaton.

Ramadhan 1441 H kali ini memang dihadapi dengan pandemi. Masyarakat Jaton yang biasa mempunyai tradisi mendagangkan takjil, mengaku tak bisa lagi mendapat rezeki berkelebihan seperti bulan puasa tahun sebelum-sebelumnya. “Biasanya saat bulan Ramadan seperti ini, sepanjang jalan akan berjejer pedagang takjil seperti saya ini. Namun kali ini dikarenakan anjuran social distancing, kami tetap berjual tetapi hanya diperbolehkan di rumah atau di halaman,” sebut Sri Lamani warga setempat.

Dirinya juga mengeluh karena dampak perekonomian menurun dan tak bisa meraup rezeki seperti Ramadan sebelumnya. “Biasanya setiap hari saat bulan ramadhan kali ini kami bisa mendapat 700 sampai 800 ribu. Namun kali ini 150 saja per hari susah, karena orang yang datang juga dibatasi,” ungkap Ita Tanos, pedagang lainnya.

Pembatasan sosial berpengaruh juga kepada kebiasaan masyarakat Jaton. Setiap Ramadan melakukan teraweh dan dibarengi dengan dzikir atau kumpul-kumpul bersama. “Untuk teraweh kali ini di Masjid Agung Al-Fallah Kyai Modjo dibatasi. Dzikir yang merupakan tradisi kumpul bersama untuk menjalankan ibadah sudah tak bisa dilakukan,” sambung Hamzah Thayeb, Tokoh Masyarakat sekaligus Tokoh Agama Jaton.

Saat Pandemi seluruh masyarakat Muslim di dunia tak terkecuali yang ada di Jaton serta lintas agama, merindukan wabah Corona segera berakhir. Diharapkan sebelum Idul Fitri Pandemi bisa segera dimusnahkan. Ditambahkan Camat Tondano Barat Ivonne Wilar, Jaton merupakan wilayah minoritas namun kekompakan masyarakatnya patut dicontoh. “Masyarakat Jatom sangat baik. Jika hari raya umat Kristen, pasti ada pemuda-pemuda Jaton yang turut mengamankan gereja. Begitu juga saat Ramadan, biasanya ada pemuda GMIM (Gereja Masehi Injil di Minahasa) yang turut mengamankan masjid serta lingkungan setempat. Tapi kali ini dikarenakan Pandemi Covid-19. Kita semua harus melihat situasi. Dengan tetap sama-sama saling menjaga kerukunan,” tandasnya.(cw-01/gnr)

Kirim Komentar