26 Apr 2020 15:35
#KawanuaAroundTheWorld

Cerita Kawanua di Australia: Polisi Rutin Patroli, Supermarket Tidak Terima Pembayaran Cash

MyPassion
Supermarket di Australia menerapkan social distancing seperti memberi tanda untuk menjaga jarak minimal 1,5 meter. (Dok.Sharon Wangke for MP)

MANADOPOST.ID – Tak terasa, sudah sebulan lockdown dilakukan di Australia. Bagaimana kabar Negeri Kangguru saat ini? Sharon Wangke, salah satu kawanua yang berada di Sydney bercerita situasi terkini di sana.

Dijelaskannya, pemerintah setempat sangat ketat memastikan semua residen mematuhi peraturan karantina diri dan social distancing. Polisi rutin patroli di tempat umum seperti high-way, supermarket, taman dan tempat yang biasa orang banyak berkumpul.

Namun, Wangke menuturkan, kebijakan lockdown yang dikeluarkan pemerintah Australia memberi pengecualian untuk beberapa hal. Seperti bekerja (yang tidak bisa work from home), belanja makanan atau obat, olahraga (yang tidak dilakukan ramai-ramai) hingga pemeriksaan kesehatan.

“Kalau tidak patuh, pemerintah menerapkan denda cukup tinggi. Ada temanku mengendarai mobil dengan lebih dari 3 orang di dalam. Pas ketahuan, langsung kena denda AUD 1800 (kira-kira setara 18 juta rupiah),” beber perempuan asal Tomohon ini.

Dengan aturan ini, Wangke menuturkan para pekerja kantoran akhirnya memaksimalkan kesempatan untuk work from home (WFH). “Selama sebulan saya WFH di Melbourne. Positifnya sih, saya bisa lebih fleksibel dengna waktu kerja. Seperti mengambil intermediate break di saat saya bisa. Tidak harus worry tentang traffic ke kerja. Dan tentu saja tidak terlalu memikirkan dandan ya, hehe. Pakai pajama saat kerja juga bisa,” ceritanya.

Penerbangan masih dibuka. Tapi hanya untuk esensial traveler. Jadwal penerbangan turun hingga 10 persen. “Itu pun pesawat terasa milik sendiri,” ujarnya.

Sekarang Wangke sudah kembali ke Sydney. Dimana, kota ini dianggap penting dari pemerintah Australia. Di tempat kerjanya, banyak pencegahan yang diterapkan perusahaan untuk memastikan kesehatan dan keamanan.

“Kami tidak diperbolehkan berjabat tangan, cleaning service lebih intens, dan aturan jaga jarak 1,5 meter. Bahkan sampai di dalam toilet juga,” ujarnya.

Eye –panggilan akrab Wangke- menuturkan, ada fakta menarik soal penerapan social distancingini. “Akhir-akhir ini banyak orang mengalami mental issue. Dan pemerintah membuka support call centre untuk mereka yang kiranya membutuhkan support mental untuk melewati masa Covid-19 ini,” beber Eye.

Ada juga hal menarik yang dilihat Eye. Baik di Melbourne atau Sydney, Eye jarang sekali melihat orang memakai masker. Katanya, masker hanya diperlukan untuk orang yang merasa kurang baik saja. “Pencegahan juga diterapkan di supermarket seperti memasang stiker jaga jarak 1,5 meter dan hanya menerima pembarayan dengan debit atau credit card (no cash),” tukasnya. (mpid)

Kirim Komentar