25 Apr 2020 12:24

Tokoh Agama Dorong Pemerintah Tindak Tegas Jemaat `Kumabal`

MyPassion
Evert Tangel dan Ulyas Taha

MANADOPOST.ID--Seluruh organisasi keagamaan di Sulawesi Utara, tegas melarang jemaat beribadah di rumah ibadah. Jemaat sudah sebulan ini beribadah di rumah masing-masing untuk memutus rantai penyebaran virus Corona.

Kini saatnya pemerintah bertindak tegas jika masih mendapati masyarakat `Kumabal` atau melanggar aturan social distancing dan physical distancing. Demikian antara lain harapan tokoh agama dalam dialog virtual Manado Post, Jumat kemarin.

Dialog tersebut bertemakan "Menjaga hubungan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa di tengah memutus rantai penyebaran Covid-19. Dipandu Tommy Waworundeng, Pemred Manado Post. Dengan narasumber Sekretaris GMIM Pdt Dr Evert Tangel MPdK dan Ketua Pengurus Wilayah Nandhatul Ulama (PWNU) Sulawesi Utara (Sulut) Drs H. Ulyas Taha MPd.

Bagi kedua pembicara, organisasi keagamaan sangat vital dalam memutus rantai penyebaran virus corona. Karena agama tempat umat berlindung, mencari rasa aman, dan mencari keselamatan. Karena itu mereka sebagai pimpinan organisasi keagamaan, tidak putus-putusnya memberikan imbauan.

Bahkan mengeluarkan aturan tegas menindaklanjuti anjuran pemerintah untuk meniadakan ibadah di gereja dan masjid. Hal ini menyusul masih banyaknya umat yang percaya, merasa beriman, sehingga melawan anjuran pemerintah. Tidak mau menjalankan social distancing dan physical distancing.

Pdt Tangel mengatakan, beribadah di rumah bukan baru kali ini dilakukan. Cara hidup jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2, juga sudah melakukan peribadatan di rumah.

"Jadi pengajaran dalam Alkitab, beribadah dari rumah, tidak mengurangi keimanan atau hubungan kita dengan Tuhan. Hal ini juga sekaligus mengajarkan kepada jemaat betapa pentingnya keluarga. Karena itu kita perlu meningkatkan lagi ibadah ibadah keluarga," jelas Pdt Tangel.

Sekretaris organisasi keagamaan terbesar di Sulut ini juga mengatakan, jemaat yang menantang virus, wabah, atau sesuatu yang membahayakan dirinya, itu adalah orang yang tidak bijak dan tidak berhikmat. “Hikmat Salomo dalam Kitab Amsal 22:3 mengatakan, ‘Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka," ujar Pdt Tangel.

Karena itu ia mendorong pemerintah dan aparat bertindak tegas terhadap masyarakat yang tidak patuh. "Dalam Alkitab Roma 13 jelas dikatakan, Pemerintah adalah hamba Allah. Tiap orang harus tunduk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah,” jelas Pdt Tangel.

Hal yang sama juga dikatakan Ketua PWNU Ulyas Taha. Ada kaidah ushul fiqih: "Menghindari kerusakan/kejahatan harus lebih diuatamakan daripada meraih kebaikan'.

 "Dalam Islam ada Kaidah fiqih yang menegaskan, "Menghilangkan Ke-mudharatan itu lebih didahulukan dari-pada mengambil sebuah kemaslahatan': Artinya, tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan," jelas Taha yang juga Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara pada Bidang Bimbingan Masyarakat Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara.

Karena itu menurut Taha, MUI, Depag, NU, Muhamadiah terus memberi imbauan agar umat tidak perlu sholat berjemaah di masjid. Tapi sholat bisa dari rumah.

Hal ini juga menjadi hikmah bagi umat Islam di bulan Ramadhan ini, bahwa keluarga adalah pertahanan yang utama dalam membangun kebaikan. "Sederhananya, perbaiki diri dan keluarga lebih dahulu, baru ajak orang lain berbuat baik," ujar Ulyas Taha.(*)

Kirim Komentar