26 Mar 2020 10:55

Share Hoax Corona, Siap-siap Dibui

MyPassion

MANADOPOST.ID--Penyebar informasi hoax terkait Corona Virus Disease (Covid-19), dinanti penjara dan denda miliaran rupiah. Belakangan penyebaran hoax terkait Covid-19 meningkat di media sosial. Khususnya di kalangan warganet Sulawesi Utara.

Polda Sulut beri warning keras. Saat ini sudah ada Satuan Tugas (Satgas) Aman Nusa II. Salah satu tugas mereka yaitu keker (pantau) penyebaran hoax di Nyiur Melambai terkait Covid-19. "Satgas ini akan melakukan penindakan terhadap penyebaran hoax terkait Corona.

Pasalnya masih banyak warga yang suka menshare konten-konten yang tak terpercaya sumbernya soal virus corona. Hal ini tentu bisa membuat keresahan," sebut Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abast. Berdasarkan Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) disebutkan bahwa "Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik” Jika ditemukan adanya indikasi pelanggaran terhadap pasal tersebut, maka mereka dapat dikenakan sanksi sesuai dengan Pasal 45A ayat (1) UU ITE.

 Di dalam pasal itu disebutkan bahwa "Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar Bunyi aturan tersebut "Bijaklah dalam menanggapi berita di medsos jangan langsung mempercayai. Lakukan klarifikasi kepada sumber-sumber terpercaya atau instansi terkait," sambung Abast.

Hal itu harus dilakukan agar warga tidak salah persepsi terhadap informasi atau berita yang diterima. "Karena di era digital ini berita yang beredar di medsos belum tentu dari sumber yang benar atau masih diragukan kebenarannya alias hoax,” tegasnya.

Direktur Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulut Kombes Yandri Irsan menambahkan, sanksi pidana menanti pembuat dan penyebar hoax. "Jadi, bagi siapa saja yang menyebarkan informasi hoax dan atau berita bohong diancam dengan pidana. Saring sebelum sharing," jamin Kombes Yandri.

Dia mengingatkan, warganet tidak bisa seenaknya menggunakan medsos. Sebab, unggahan di medsos bisa berujung penjara. "Hanya meneruskan berita dan itu terbukti bohong juga bisa dipidana," tukasnya. Keprihatinan akibat maraknya hoax terkait Covid-19 juga diseriusi Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi).

Organisasi yang beranggotakan dosen dari 78 perguruan tinggi di 30 kota di Indonesia, mencari dan memproduksi beragam informasi akurat terkait Covid-19 ke dalam bentuk video dan poster edukatif bagi masyarakat.

"Untuk mengimbangi banjir hoax yang menyesatkan warga di saat pandemi ini, kami membuat beragam konten digital `Jaga diri dan Jaga Keluarga' di dalam 42 bahasa daerah, selain bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin, supaya bisa lebih dekat dengan keseharian masyarakat kita yang majemuk," kata Novi Kurnia, Koordinator Japelidi yang juga Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi Fisipol UGM.

 Lanjut dia, produksi konten berbahasa daerah ini masih akan bertambah sesuai kebutuhan masyarakat Untuk menyebarkan konten berbahasa daerah tersebut, Japelidi bekerjasama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik lndonesia, Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) dan Komunitas Berbeda Itu Biasa.

Penyebaran dilakukan melalui akun Instagram (https://www.instagram. com/japelidi/?h1=en) dan Twitter (https://twitter.com/ japelidi?lang=en) Japelidi. Selain itu, sosialisasi juga dilakukan melalui akun media sosial dan grup WhatsApp para anggota Japelidi yang berjumlah 163 orang dengan membagikan poster digital seperti "Jaga diri dan Jaga Keluarga", "Perlindungan Data Pribadi", dan "Sumber Informasi Terpercaya,” serta videografik tips menemani anak belajar di rumah.

"Tanggapan warganet sangat positif. Misalnya, banyak orang atau komunitas meminta kami mengirim file untuk mereka cetak sendiri lalu membagikannya kepada warga berusia lanjut di sekitar mereka. Bahkan ada yang membuatnya menjadi spanduk. Memang banyak orang tidak mengakses jejaring sosial, sehingga akses informasi mereka pun terbatas," kata Novi.

Japelidi juga melakukan kampanye luring dengan membagikan sabun dan hand sanitizer bagi warga yang masih hams bekerja di luar rumah seperti pengendara ojek dan pedagang pasar. Dana untuk ini berasal dari urun daya donasi anggota Japelidi.

Kegiatan luring dilakukan tim dan warga dengan membagikan selebaran, poster, dan spanduk di tempat-tempat strategis di banyak daerah: Jakarta, Yogyakarta, Bali, Salatiga, Semarang, Lamongan, Malang, Bandung, Ponorogo, Depok, Surabaya, Sukabumi, Blora, Grobogan, Bogor, Banjarmasin, Kulonprogo, Gresik, Tegal, Wonogiri, Cilacap, Magelang, NTT, Kutai, NTB, Timika, Kab. Semarang, Lombolaimur, Lampung, dan Samarinda.

Cakupan wilayah ini masihterus bertambah seiring dukungan warga. "Kami tidak menyangka dukungan dan warga akan sebesar ini. Seperti halnya kampanye politik, kampanye kesehatan juga hams dilakukan melalui darat di banyak tempat. Menurut saya masih banyakruangyang belum terjangkau, padahalisu pandemi ini sangat mendesak,” kata Lestari Nurhajati, dosen LSPRyang menjadi Koordinator Kampanye Japelidi Lawan Hoax Covid-19. (jen/gnr)

Kirim Komentar