24 Mar 2020 08:39
Masa Siaga Darurat Diperpanjang

Angka ODP di Sulut Turun

MyPassion

MANADOPOST.ID- Tak bosan-bosan diingatkan agar warga lebih banyak beraktivitas di rumah. Data akurat Satgas Penanggulangan Covid-19 Pemprov Sulut, Senin (23/3), kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) menembus 249 warga (sementara pemantauan) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 13 orang (sementara pengawasan). Sementara pasien positif Covid-19, patut disyukuri tak ada penambahan.

 

Jika melihat data per 19 Maret pekan lalu, pasien ODP ada di angka 371 orang. Ini menunjukan adanya penurunan warga dalam pemantauan. Meski begitu, dengan melihat berbagai indikator, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tetap memutuskan, memperpanjang status Siaga Darurat Penanganan Bencana Non Alam Covid-19. Perpanjangan status ini tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur Sulut 97/2O2O. Melalui surat tersebut, penetapan status Siaga Darurat berlangsung selama 75 hari, terhitung sejak 16 Maret hingga 29 Mei 2020.

SK yang diteken Gubernur Olly Dondokambey menyatakan, perpanjangan status darurat tersebut mengacu pada pernyataan juru bicara pemerintah yang menangani Covid-19 dalam konferensi pers tertanggal 14 Maret 2020. Yang menyatakan Sulut, memiliki pasien dengan hasil laboratorium positif. Juga diperkuat pernyataan World Health Organization (WHO), yang menyatakan Covid-19 sebagai pandemic pada 11 Maret 2020.

“Berdasarkan pertimbangan sebagaimana acuan tersebut, sehingga perlu menetapkan SK Tentang Penetapan Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Non Alam Virus Corona (Covid-19) di Provinsi Sulut,” ungkap Gubernur Sulut Olly Dondokambey, melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik Daerah Provinsi Sulut Christiano Talumepa, Senin (23/3) kemarin.

Penetapan status siaga darurat penanganan bencana non alam ungkap Talumepa, dapat diperpanjang ataupun diperpendek sesuai kebutuhan penyelenggaraan penanganan darurat bencana. “Biaya yang timbul sebagai akibat pelaksanaan keputusan ini dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sulut, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), juga sumber dana lain yang sah dan tidak mengikat," bebernya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw mengatakan, penanganan Covid-19 di Sulut sudah dilakukan secara maksimal. Langkah-langkah pencegahan serta penanganan sudah mulai dilakukan Pemprov Sulut. Kandouw mengatakan, jika pasien Covid-19 di daerah bertambah, maka tempat isolasi juga telah ready.

"Semua antisipasi sudah kita lakukan. Jika pasien Covid-19 bertambah, maka tempat isolasi juga sudah siap. Saya telah tinjau lokasi yang akan dipakai, dan telah memenuhi syarat. Karena juga lokasi ini jenuh dengan pemukiman penduduk. Lokasi yang akan dipakai itu adalah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Sulut. Disana ada 250 kamar yang tersedia. Juga ada ruangan lain yang bisa dijadikan bangsal," tuturnya.

Kandouw juga mengatakan, Pemprov Sulut tetap optimal mengantisipasi Covid-19 ini. Persiapan lokasi isolasi tersebut ungkap Kandouw, sebagai langkah penanganan agar Covid-19 tidak bertambah luas ke daerah. "Seperti pepatah mengatakan, sediakan payung sebelum hujan. Ini yang memang telah kita antisipasi. Kita tentu berharap, agar kasus Covid-19 di Bumi Nyiur Melambai, tidak lagi bertambah. Untuk Orang Dalam Pengawasan (ODP), yang jumlahnya telah ratusan, saya tekankan, mereka bukan sakit. Mereka ini yang baru melakukan perjalanan dan masuk Manado. Jadi perlu untuk kita awasi. Jadi masyarakat tetap tenang," sebutnya.

Kandouw juga mengatakan, pembelian masker untuk masyarakat Sulut, Alat Pelindung Diri (APD), Rapid test bakal menjadi prioritas dari Pemprov Sulut. Pasalnya dikatakan Kandouw, hal tersebut merupakan arahan langsung Pak Gubernur Olly Dondokambey. "Sekarang ini semua sumber kita pakai untuk mendapatkan Rapid test. Semoga pada Selasa atau Rabu, pekan depan kita sudah mendapatkan barang-barang tersebut. Jadi memang sementara tim upayakan. Karena itu masyarakat tetap tenang, karena pemerintah selalu hadir di tengah masyarakat,” kuncinya.

Dilansir dari https://corona.sulutprov.go.id, orang dapat tertular Covid-19 dari orang lain yang terjangkit virus ini. Covid-19 dapat menyebar dari orang ke orang melalui percikan-percikan dari hidung atau mulut yang keluar saat orang yang terjangkit Covid-19 batuk atau mengeluarkan napas. Percikan-percikan ini kemudian jatuh ke benda-benda dan permukaan-permukaan di sekitar. Orang yang menyentuh benda atau permukaan tersebut lalu menyentuh mata, hidung atau mulutnya, dapat terjangkit. Penularan COVID-19 juga dapat terjadi jika orang menghirup percikan yang keluar dari batuk atau napas orang yang terjangkit. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga jarak lebih dari 1 meter dari orang yang sakit. WHO terus mengkaji perkembangan penelitian tentang cara penyebaran COVID-19 dan akan menyampaikan temuan-temuan terbaru.

Apakah virus penyebab COVID-19 ini dapat menular melalui udara? Menurut penelitian sejauh ini, virus penyebab COVID-19 ini umumnya menular melalui kontak dengan percikan dari saluran pernapasan, bukan melalui udara. Lihat jawaban sebelumnya tentang “Bagaimana cara COVID-19 menyebar?”

Apakah COVID-19 dapat menular dari orang yang tidak menunjukkan gejala? Cara utama penyebaran penyakit ini adalah melalui percikan saluran pernapasan yang dihasilkan saat batuk. Risiko penularan COVID-19 dari orang yang tidak ada gejala sama sekali sangatlah rendah. Namun, banyak orang yang terjangkit COVID-19 hanya mengalami gejala-gejala ringan, terutama pada tahap-tahap awal. Karena itu, COVID-19 dapat menular dari orang yang, misalnya, hanya batuk ringan tetapi merasa sehat. WHO terus mengkaji perkembangan penelitian tentang cara penyebaran COVID-19 dan akan menyampaikan temuan-temuan terbaru.(ewa/gnr)

Kirim Komentar