17 Feb 2020 15:46

Parasite

MyPassion

TONGGAK sejarah kembali terpancang. Dunia perfilman menyaksikan pemancangan itu. Protagonisnya dijabat oleh sebuah film Korea, yang melampaui stereotip drama melankolis atau romantis. Kotak penghargaan dan apresiasi tertinggi secara internasional terkuak lebar dan terburai hingga merobek cadar standar umum pencapaian film berbahasa nonInggris. Judul film itu Parasite.  

Penghargaan tertinggi, Palme d'Or, di Festival Film Cannes, Film Berbahasa Asing Terbaik di Golden Globes 2020, Penghargaan Penampilan Terbaik oleh Seorang Aktor di Screen Actors Guild Awards (SAG), dua penghargaan di British Academy Film Awards (BAFTA), dapat diurut sebagai pengantar. Di 92nd Academy Awards, Parasite diganjar empat piala Oscar, yaitu penghargaan tertinggi yang diidamkan oleh sebuah film, yaitu Film Terbaik, serta penghargaan Sutradara Terbaik, Film Internasional Terbaik, dan Naskah Asli Terbaik. Jelas daftar ini tidak komprehensif, tapi cukup mendesak orang menundukkan kepala dalam kagum.

Tema

Tema dasar Parasite menyilangkan keadilan sosial, kesenjangan kelas sosial, ketamakan kapitalistik, dan keabu-abuan moral. Hibrida tema ini ternyata telah menghantui Bong Joon-Ho dalam film-filmnya terdahulu. Ia tak kuasa membendung kegelisahan primordialnya yang mengusik neraca moral dan kelengangan nuraninya. Dalam format metarealitas film, ia menemukan celah pelepasannya.

Representasi tema Parasite seakan menjauhi bentuk narasi linear. Ragam genre diaduknya. Elemen otonom seperti komedi, drama, thriller, dan horor meruang bersama dalam alurnya. Dalam Parasite, otonomi setiap genre melebur dalam orkestra sinematografi yang dipresentasikan dengan presisi.

Dua genre pertama, komedi dan drama, secara sintetis menemani penonton menyelami relung-relung latar belakang kehidupan dua keluarga utama, yaitu keluarga Kim, sederhana, namun menyatu dan ceria, dan keluarga Park, kaya dan artifisial dengan sumur kehidupan yang kering. Kegetiran keadilan sosial dan gap sosial terbersit apik melalui totalitas gambar dan adegan yang ditampilkan.

Sebagian dari film mengadopsi dua genre terakhir. Di bagian ini, segalanya menjadi cepat, kompak, dan padat. Cairnya alur ini memancang teguh titik pandang penonton pada setiap adegan. Kelincahan alur ini pun menawarkan setiap bersitan keinginan asing yang muncul secara sporadis. Gestur dan geliat tubuh tanpa intensi seakan tak terbendung menemani penonton mengikuti derasnya luncuran setiap adegan.

Bong tidak hanya berhenti pada ekspresi genre berbaur. Ia menambah karakteristik dan adjektiva pada hibrida genre tersebut. Komedi dan drama menyilang dengan sifat satiris yang kental. Sedangkan, jenis horor dan thriller menyajikan ketegangan yang tragis dan mengguncang. Lapisan majemuk ini dirancang secara tertib dan apik sebagai bangunan infrastruktur Parasite.

Cerita

Parasite mengusung misi kegelisahan Bong, sang penulis sekaligus sutradara. Dengan fasih dan tanpa bekas kecanggungan, Bong menyajikan potretnya tentang gap kelas sosial yang menjamur dan merongrong sendi-sendi dasar kehidupan komunitas di Korea Selatan. Namun, rupanya pesan sosial ini lekang dari definisi geografis. Ruang dan waktu melebur dalam cakupan universal keprihatinan Bong. Demikian, kepemilikan dan identifikasi terhadap narasi yang diusung oleh Parasite menyusup nyaman di sudut-sudut nurani setiap penyimak Dan mereka kini hanya dibatasi oleh sempadan universal.

Bong lugas tentang kegelisahannya yang tertumpah dalam Parasite. Ketika ia diwawancara oleh Tomris Laffly, seorang kritikus film independen, Bong mengafirmasi “sebagai artis, saya mungkin lebih sensitif, namun semua orang merasakannya. Kita hanya berusaha keras untuk menyangkalnya karena hal itu membuat kita tak nyaman… Film ini berbicara tentang sesuatu yang kita semua rasa dan sadari, hanya saja kita tidak pernah membicarakannya” (www.rogerebert.com).

Cerita ini berlatarbelakang kondisi urban di Korea Selatan. Namun, karena kesejatiannya yang menyentuh sembiran universal, fenomena yang diangkat sangat wajar dan selaras mewujud di setiap lorong urban di dunia ini. Dua keluarga, Kim dan Park, yang melakonkan pesan kesenjangan lebih diurai dalam visualisasi daripada narasi linear antartokoh.

Kim Ki-taek, yang diperankan secara fasih oleh Song Kang Ho, tinggal bersama keluarganya dalam sebuah apartemen yang kumuh. Pada saat yang sama, radiasi afeksi yang diciptakannya dengan istri dan anak-anaknya, menyatukan mereka. Kehangatan ini sepertinya menguatkan mereka untuk tidak menggubris kerja rendahan dan kehinaan yang menyertainya.

Di sisi lain, keluarga Park yang kaya menghidupi kesehariannya dalam ilusi akan sesuatu yang remeh. Cara mereka mengisi ruang yang diciptakan oleh Bong terkesan artifisial, terpisah, dan korosif terhadap kekuatan internal keluarga mereka sendiri. Dalam potongan-potongan adegan, keluarga Park seakan tidak menyatu dan “jauh” dari ruang milik mereka. Sebaliknya, ruang menguasai dan “memiliki” mereka. Mereka akhirnya lebih menempati periferi daripada inti.

Nafas keluarga Kim seakan terhembus lega ketika mereka secara licik meruang bersama dengan keluarga Park. Celah ini tercipta oleh kelihaian sang putra keluarga Kim, yaitu Ki-woo. Ia melenggang ke dalam kehidupan borjuis keluarga Park sebagai tutor bahasa Inggris bagi sang putri keluaga Park, Da-hye. Setelahnya, keluarga Kim menyusul satu persatu dengan menggunakan dusta dan pesona demi menyingkirkan pesaingnya.

Keluarga Park mempermudah proses ini. Bukan karena mereka lemah, lugu, atau mudah tertipu, melainkan karena impotensi yang diciptakan oleh keremehan dan kemudahan yang dikondisikan oleh konsumerisme kapitalistik. Namun, semangat ini tidak hanya korosif terhadap keluarga Park, tapi juga keluarga Kim. Di satu pihak, keluarga Park mengalih-dayakan tata kelola hal-hal praktis dalam keluarga mereka kepada keluarga Kim. Di pihak lain, keluarga Kim menunggangi mereka secara oportunistis demi ilusi kenyamanan remeh yang asing bagi keluarga Kim.

Ilusi berbasis konsumerisme dan oportunisme kapitalistik akhirnya mengasingkan kedua keluarga ini dari bobot kehidupan. Akar autentisitas keluarga perlahan meranggas dan tak mampu mengasup semangat hidup batih yang murni. Ilusi kapitalistik mengempaskan keduanya ke dalam keterasingan. Akhirnya, jurang kaya-miskin berubah menjadi jurang artikulasi identitas autentik dan ilusi.

Demi Idealisme

Di samping keliarannya mencipta koreografi, salah satu karakteristik Bong yang diangkat beberapa kritikus film menyasar kepastian geometri dan prinsip-prinsip fisika. Tata letak ruang dan bangunan untuk mengejawantahkan kegelisahan sosial dikonstruksi dengan presisi. Bong menginterpretasi kesenjangan itu dalam wujud geometris lingkungan sesak dan pengap  sebagai habitat keluarga Kim serta rumah dan pekarangan ultramodern à la keluarga Park (www.nytimes.com).

Dalam wawancaranya dengan Laffly, Bong juga mengakui kecintaannya pada permainan ruang dan bagaimana karakter bergerak menghidupinya. Demi merekam semuanya, Bong menyelaraskan peta langkah, rute gerak, dan semua sudut rekam kamera. Sintesis semua ini menuntut desain ruang dan tata letak isinya yang menyatu dengan seluruh kemungkinan gerak dan ekspresi semua karakter. Konsekuensinya, ruang dibentuk bukan demi presisi arsitekturalnya, namun demi penyampaian pesan melalui gerak lakon.

Bagi Bong, geometri sepenting kemampuannya menguak makna yang tersembunyi dalam orkestra gerak para lakon yang mengisi ruang geometris itu. Presisi bukan tujuan pada dirinya. Geometri dan presisi hadir untuk menjawab pertanyaan bagaimana lapisan kegelisahan Bong dapat dikupas satu demi satu. Dan ia berhasil membawa penontonnya untuk mengurai simbolisme dan permainan letak dalam rasukan dinamik alur yang tertib.

Epilog

Baik keluarga Kim maupun keluarga Park menjadi parasite satu terhadap yang lain. Ilusi konsumerisme dan oportunisme kapitalistik menyesatkan keduanya. Akhirnya, judul film ini seharusnya menjadi jamak, Parasites.

Kirim Komentar