14 Feb 2020 15:21

Usulan Pemkab Tak Terakomodir, Sangihe Kekurangan Guru Bahasa Indonesia

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOST.ID-Sekolah di wilayah perbatasan NKRI dan Filipina khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe kekurangan guru mata pelajaran (matpel) Bahasa Indonesia.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Djoli Mandak MPd. Ia menyebutkan kondisi ini terjadi karena adanya moratorium yang cukup lama.

“Meski dua tahun terakhir ini diadakan penerimaan CPNS, namun kuota kebutuhan guru yang kami usulkan berbeda dengan hasil yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Badan Kepegawaian Nasional (BKN) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” bebernya.

Dia mengakui, pada perekrutan CPNS 2018 dan 2019, Dinas Dikbud dan BKPSDM  kabupaten/kota sudah diundang dan pihaknya membawa data kebutuhan guru ke kementerian dan BKN. Tetapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Dinas Dikbud Sangihe minta.

“Bukan kami tidak usulkan. Kami sudah berusaha, tetapi dari pusat yang mengeluarkannya tidak sesuai dengan permintaan Padahal kami mengusulkan Bahasa Indonesia dan PKN di usulan CPNS 2019 kemarin. Tetapi yang keluar bukan kuota yang kami usulkan,” ungkapnya.

Mandak menuturkan ada tiga mata pelajaran yang hari ini masih butuh tambahan guru, yaitu Bahasa Indonesia, PKN, dan Seni Budaya. Sehingga untuk menutupi kekurangan guru tersebut, sekolah menerima guru tidak tetap melalui program Sangihe Mengajar yang dibiayai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

“Kalau untuk SMP di Sangihe rata-rata kekurangan guru Bahasa Indonesia, Kedua PKN, kemudian Seni Budaya. Dan memang untuk kuota program Sangihe Mengajar saja belum mencukupi sekolah-sekolah yang ada,” pungkas Mandak.

Terpisah, guru honorer matpel Bahasa Indonesia di salah satu SMP Kabupaten Sangihe R Saselah berharap pengangkatan CPNS 2020 nanti, kuota untuk guru Bahasa Indonesia di Kabupaten Kepulauan Sangihe tersedia.

“Mengingat dua kali berturut-turut pengangkatan CPNS, tidak ada kuota untuk guru bahasa Indonesia. Apalagi, banyak guru bahasa Indonesia yang sudah pensiun, sehingga kebanyakan guru Bahasa Indonesia berstatus guru honor,” ujar dia. (wan/don)

Kirim Komentar