12 Feb 2020 18:35

Parasite dan Fondasi yang Dibangun Miky Lee

MyPassion
Miky Lee di Dolby Theatre, Los Angeles, pada Minggu (9/2) malam lalu. (AP)

SEKITAR dua setengah dekade sebelum Parasite, sebuah panggilan telepon masuk ke kantor Samsung di Amerika Serikat (AS). Dari seberang sana, seorang pengacara kenalan perusahaan asal Korea Selatan (Korsel) itu memberikan kabar, sekaligus penawaran.

’’Steven Spielberg, David Geffen, dan Jeffrey Katzenberg akan membangun studio film baru. Apakah Samsung berminat (menanam modal)?’’ kata si pengacara.

And the rest is history.

Dari titik itu, dilanjutkan Oldboy karya sutradara Park Chan-wook yang memenangi trofi Grand Prix di Festival Film Cannes, Prancis, 2004, hingga sampai ke Parasite besutan Bong Joon-ho yang mencatat sejarah demi sejarah. Termasuk terpilih sebagai film terbaik Academy Awards tahun ini, film berbahasa non-Inggris pertama yang sukses melakukannya.

Dinukil dari The Hollywood Reporter, adalah Miky Lee yang berada di balik berbagai momentum itu. Dialah yang menerima telepon dari si pengacara pada suatu siang di 1994 tadi. Dia juga yang mengegolkan deal dengan DreamWorks, studio baru yang didirikan Spielberg dkk tersebut. Dan dia pula yang kemudian membangun berbagai infrastruktur perfilman di Korsel yang memungkinkan munculnya generasi sineas berbakat seperti Park Chan-wook dan Bang Joon-ho.

Perusahaan yang dia komando meletakkan fondasi penting bagi tumbuhnya industri pop Korsel. Dari drama televisi yang ditonton secara streaming oleh jutaan orang, konser K-pop yang disesaki pengunjung di berbagai belahan bumi, sampai film yang mendominasi box office di Asia, bahkan dalam waktu tak lama lagi, di Barat.

’’Dia penggemar berat film, musik, dan TV. Pencinta film sejati yang telah menonton begitu banyak film dan berhasil membawa kegairahan itu ke dunia bisnis,’’ kata Joon-ho tentang Miky seperti dikutip The Hollywood Reporter.

Miky adalah vice chairman CJ Group. Dia lahir 61 tahun lalu dari keluarga chaebol atau konglomerat. Kakeknya, Lee Byung-chul, adalah pemilik Samsung.

Ketika sang kakek meninggal pada 1987, aset tersebut dibagi-bagi. Lee Jae-hyun, kakak Miky, kebagian mengelola CJ Group, grup bisnis yang semula didirikan sebagai anak perusahaan Samsung yang bergerak di bidang usaha gula dan tepung. Miky baru lulus dari Harvard saat itu dan kemudian bergabung dengan kantor Samsung di AS.

Kesepakatan dengan DreamWorks tadi terealisasi pada 1995 setelah Miky membawanya ke sang kakak yang memimpin CJ. CJ saat itu tengah dalam proses memisahkan diri dari Samsung untuk menjadi entitas bisnis sendiri.

CJ pun sepakat menanamkan modal USD 300 juta di DreamWorks dan berhak atas 10,8 persen saham. Juga, hak distribusi film-film produksi studio tersebut di Asia, kecuali Jepang.

’’Ada dua orang, yang tanpa mereka, DreamWorks bukanlah apa-apa. Paul Allen dan Miky Lee,’’ puji Katzenberg sebagaimana dikutip The Hollywood Reporter.

Kesepakatan tersebut langsung menjadikan CJ Group salah satu pemain yang diperhitungkan di industri hiburan. ’’Enggak ada yang merencanakan hal itu. Semua berjalan mengalir,’’ papar Miky.

Tantangan kembali menghadang. Saham dan hak distribusi di tangan, tapi tanah kelahiran Miky, Korsel, justru tidak punya infrastruktur bioskop yang memadai. Tapi, penggemar film komedi era 1970-an, Pink Flamingos, itu melihat ada modal besar lain: warga Korsel cukup ’’paham’’ film.

Video film Hollywood laris disewakan dan diperjualbelikan. CJ Group pun mulai membuka bioskop pertamanya pada 1998 yang menjadi cikal bakal chain bioskop terbesar Korea, CGV.

Itu dilakukan tak cuma untuk membuat partner mereka dari AS terkesan. Tapi, juga agar perfilman Korea ikut bergerak. Untuk itu, saat CGV diresmikan, CJ juga memberikan beasiswa buat sineas Korea.

’’Saat itu film produksi Korea baru 10 persen. Sekarang, di bioskop Korea, 50 persen filmnya adalah produksi lokal,’’ lanjutnya.

CGV pun ikut berbiak. Dari satu bioskop, kini CGV bahkan memiliki cabang di sejumlah negara lain. Termasuk di Indonesia.

Miky juga pejuang tanpa lelah dalam hal mempromosikan film-film Korea ke Hollywood. Dia mengenang bagaimana pada awal 2000-an dirinya sering bepergian dengan membawa segepok DVD film-film Korea.

Miky berkeliling ke berbagai perusahaan distribusi film. Termasuk, perusahaan independen.

Kesuksesan Oldboy di Cannes pada 2004 akhirnya mebantu membuka lebar jalan. ’’Sejak saat itu, saya tidak perlu repot melalui fase pembuktian (film Korea) lagi,’’ lanjutnya.

Di Cannes pula, pada 2006, Joon-ho kali pertama bertemu Tom Quinn, seorang produser di Magnolia Pictures kala itu. Adalah Quinn yang tahun lalu membawa Parasite ke AS.

Sesudahnya adalah sejarah. Dan, ada Miky Lee di baliknya.(JawaPos)

Kirim Komentar