11 Feb 2020 10:42

Pembunuhan Berantai Teror Warga, Sudah 10 Warga Diduga Meninggal Terbunuh

MyPassion

MANADOPOST.ID--Peristiwa pembunuhan secara ‘berantai’ (beruntun, red) terus menggemparkan publik Sulawesi Utara (Sulut). Baru Januari-Februari awal, sudah 10 warga diduga meninggal terbunuh. Paling memiriskan baru masuk pekan kedua Februari, sudah lima jadi korban pembunuhan.

 

Kasus pembunuhan di Sulut memang meningkat dua tahun terakhir. Data Polda Sulut, tahun 2018 ada 42 kasus, sementara tahun lalu jadi 43 kasus. Terbaru selang dua hari belakangan dua warga kembali dibunuh. Awalnya Minggu (9/2), warga Desa Batu Woka Likupang Dua, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minut, digegerkan dengan tewasnya Jeffry Pontoh, karena tikaman senjata tajam.

Kejadian bermula dari perkelahian antar-teman korban. Kemudian korban menegur dan ingin menghentikan perkelahian itu. Karena merasa tersinggung dan tak terima, tersangka pun langsung menancapkan senjata tajam ke dada kiri dan leher. Korban sempat lari untuk meminta pertolongan tapi sayang tak sanggup menahan sakit. Pelaku yang sempat melarikan diri ke arah perkebunan tak berselang lama diringkus petugas Polres Minut.

Lalu Senin kemarin, Antonius Rambi (47), warga Desa Pineleng Dua, Kecamatan Pineleng, Minahasa, juga jadi korban pembunuhan. Polsek Pineleng hingga kemarin masih mendalami kasus yang terjadi pada pukul 5.30. Korban mengalami satu luka tikaman di pinggul kiri. Sementara tersangkanya masih misterius. “Pihaknya kami sudah mendatangi tempat kejadian perkara serta mengumpulkan keterangan dari para saksi,” sebut Kapolsek Pineleng Iptu Shirley Mangelep.

Dijelaskan Psikolog Hanna Monareh MPsi, apapun bisa menjadi pemicu pembunuhan. Bahkan bunuh diri, juga termasuk pembunuhan terhadap diri sendiri. Menurutnya ada faktor internal dan faktor eksternal. “Faktor internal, seperti kemampuan intelektual, dorongan emosional dan dorongan agresivitas. Seseorang yang kemampuan intelektual kurang, dapat mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Mereka kurang mampu mengontrol emosi dengan mudah terpengaruh untuk melawan orang lain,” sebutnya.

Lanjutnya, setiap orang memiliki dorongan emosional dan agresivitas dalam dirinya, sebagai bentuk untuk pertahanan diri (menjaga dirinya). Namun bila tidak terkontrol, hal ini yang bisa merugikan orang lain bahkan menghilangkan nyawa, termasuk perilaku membunuh.

Kata Monareh ada juga faktor eksternal, bisa juga dengan mengonsumsi alkohol, pengaruh penggunaan narkotika, kemudian seseorang mengalami penurunan kesadaran untuk berpikir dan mengontrol perilaku. Bisa juga pengaruh media, film, atau perilaku mencontoh. “Misalnya individu yang terobsesi dengan idola yang suka beradegan kekerasan termasuk membunuh, itu bisa berpotensi mengikuti idolanya yaitu membunuh,” bebernya.

Menurutnya, kepribadian seseorang mempengaruhi cara berperilakunya saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar. “Kepribadian ini dibentuk dari faktor pola asuh orangtua, dan pengalaman di waktu masa anak-anak,” tandas Monareh.

Dari segi kacamata pakar hukum pidana Toar Palilingan MH, menekankan perlunya peningkatan razia penyakit masyarakat guna meminimalisir penganiayaan yang berujung pada pembunuhan. “Razia minuman keras dan narkoba, terutama di tempat-tempat rawan maupun di acara-acara yang biasa digelar sampai larut malam. Karena kebanyakan kasus penganiayaan dan pembunuhan terjadi di acara-acara seperti itu. Di situlah sumber kerawanan yang perlu ditingkatkan pengawasannya,” sebut Wakil Dekan III Fakultas Hukum Unsrat tersebut.

Ditambahkannya, petugas wajib menghukum berat pelaku. Seperti kasus-kasus pembunuhan sadis sebelumnya, ada yang dihukum seumur hidup. “Bahkan kalau perlu hukuman mati,” tegas Palilingan. “Mungkin motifnya beda-beda. Tapi apapun motifnya, tetap pembunuhan sadis sudah sepantasnya dihukum setimpal,” tandasnya.

Kasus tersebut ikut mendapat perhatian Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw. “Memang masalah-masalah sosial masyarakat ini terus meningkat. Khususnya terjadi dalam lingkup keluarga. Pemerintah sangat menyayangkan akan hal-hal negatif yang terjadi tersebut," ungkap mantan Ketua DPRD Sulut ini.

Kandouw juga berharap, agar peran tokoh agama dan masyarakat di 15 kabupaten/kota, bahkan sampai tingkat kecamatan serta kelurahan dan desa. “Peran tokoh agama dan tokoh masyarakat sangat penting. Mulai dari menekan tingkat kriminalitas, kesejahteraan masyarakat hingga stabilitas daerah. Karena itu, saya meminta peran tokoh agama harus intens untuk turun secara langsung ke masyarakat,” katanya.

Kandouw juga mengatakan, pihaknya bakal membantu secara penuh melalui dukungan anggaran. “Semangat pak gubernur untuk membantu semua rumah ibadah itu besar. Dan dari pesan yang dititipkan Pak Gubernur Olly Dondokambey, akan ada perhatian khusus untuk tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Pemerintah tetap hadir di tengah masyarakat untuk menurunkan masalah-masalah sosial di masyarakat,” kuncinya.(asr/ewa/gnr)

CATAT KASUS JANUARI-FEBRUARI 2020:

1. Jenli Tumengkeng (52), tewas akibat ditikam oleh FW (32), sesama warga Manembo, Langowan Selatan, Minahasa, Rabu (1/1), pukul 20.00 WITA.

2. Agung Akbar (26) dan Rosna Sartika (27) warga Girian Bitung. Suami istri ini ditemukan meninggal berlumuran darah di sebuah penginapan, di Kelurahan Komo Luar Lingkungan II Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sabtu (11/1).

3. EK (22), warga Tombasian Atas, Kawangkoan Barat, Minahasa, diamankan petugas Polsek Kawangkoan atas kasus penganiayaan yang mengakibatkan tewasnya Welly Moniung (45), warga setempat, Sabtu (18/1) dini hari.

4. Polres Kepulauan Talaud mengamankan tersangka pembunuhan KP (42), warga Bowombaru Utara, Melonguane Timur, sesaat usai kejadian, Senin (27/1) pagi. Korbannya Darma Saweduling (53), warga Melonguane.

5. Pertikaian antar kelompok pemuda di perbatasan Desa Karondoran dan Desa Sumarayar, menyebabkan satu warga meninggal dunia, Minggu (2/2) dini hari. Korban bernama JL warga Desa Karondoran Jaga IV  Kecamatan Langowan Timur Kabupaten Minahasa, tewas setelah dianiaya.

6. Korban Vidi Limpele (22) warga Desa Seretan Timur meninggal usai dianiaya pelaku berinisial BM (16) warga Desa Kayuroya. Tindak pidana ini terjadi di wilayah hukum Polsek Lembean Timur, Minggu (2/2) pukul 4.00 WITA.

7. Billy Natari (18) warga Desa Sea, ditemukan meninggal Minggu (2/2). Empat tersangka pembunuhan berhasil diamankan di Perumahan Viola, Kelurahan Maumbi pukul 18.00 WITA. Terduga pelaku JLS alias Jer (21), HK alias Har (17), SYEK alias Sam (27), ketiganya warga Desa Sea dan FP alias Fal (20) warga Perumahan Viola Maumbi.

8. Personel Polsek Likupang bersama Tim Resmob Polres Minut meringkus JT alias Sem, tersangka penikaman yang menewaskan Jefri Pontoh, sesama warga Desa Likupang Dua, Jaga VIII, Kecamatan Likupang Timur, sesaat usai kejadian, Minggu (9/2).

9. Antonius Rambing (47), warga Desa Pineleng Dua, Jaga IV, Kecamatan Pineleng, Minahasa, Senin (10/2), meninggal akibat luka tikaman di pinggul kiri belakang. Hingga kini tersangka penikaman masih misterius.

 

*Sumber: Laporan Polisi, Diolah

 

Faktor-Faktor Penyebab:

1. Pembunuhan akan terus terjadi dan bisa dialami siapa saja selama masih ada konflik-konflik sosio-emosional yang belum terselesaikan antara individu satu dengan lainnya, antara sekelompok orang kepada kelompok lainnya.

2. Pembunuhan bisa dilakukan siapa saja; anak-anak, remaja, dan orang dewasa.

3. Ada  banyak motif yang mendasari terjadinya pembunuhan. Di antaranya, reaksi terhadap kekerasan yang dialami sehingga muncul keinginan untuk menyelamatkan diri dari tekanan dan kekerasan.

4. Seorang yang merasa kecewa, sakit hati atau dendam secara ekstrem akan melampiaskan rasa kecewa, sakit hati, dendam atau amarah dengan cara membunuh.

5. Sakit hati karena pasangan berselingkuh, motif uang dan motif utang-piutang. Pembunuhan bisa dilakukan seorang diri, tetapi juga bisa dilakukan secara bersama.

6. Kejahatan pembunuhan bisa dikurangi, dicegah, atau dihindari. Caranya dengan mengenali faktor-faktor penyebab munculnya dorongan agresi pada manusia.

7. Berbagai faktor penyebab seringkali menjadi daya penggerak bagi seseorang merencanakan, memutuskan, dan  membunuh orang lain. Ini bisa dipicu karena adanya konflik sosio-emosional.

8. Rendahnya toleransi dalam mengatasi kekecewaan dan kemarahan akibat konflik, seringkali mendorong munculnya agresivitas yang tidak dapat dikendalikan manusia. Kemudian menyerang lawannya walaupun mungkin pada awalnya tidak berniat untuk membunuh.

9. Sikap yang tidak mudah memaafkan orang lain menyebabkan rendahnya toleransi manusia terhadap ketidaknyamanan yang dialami. Semakin sulit memaafkan, semakin besar dorongan agresivitasnya kepada orang lain.

10. Pola asuh yang tidak baik dalam menyelesaikan konflik pada masa kanak-kanak. Banyak orangtua justru memarahi anaknya atau mengejek anak dengan ungkapan bodoh dan lemah, serta mendorongnya untuk kembali melawan.

*Sumber: Analisa Daily, Diolah

Kirim Komentar