10 Feb 2020 13:36

Per Exteriorem ad Interiorem

MyPassion

PADA Sabtu yang lalu, tanggal 8 Februari 2020, penghormatan murid-murid terhadap gurunya terungkap secara khusus. Apresiasi kolega nalar terekspresi secara pantas. Gestur intelektual terangkai dalam setiap untai kalimat. Kalimat-kalimat tersebut terbangun dalam setiap deskripsi dan analisis tentang peziarahan nalar sang guru dan kolega. Muara dari semua alur pemikiran mewujud dalam bentuk sebuah buku tentang sang guru.

Sabtu itu merupakan peluncuran sekaligus pembedahan buku itu. Buku itu diberi judul “Melangkah dengan Akal Budi, Karsa, dan Karya” dan diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. Komposisi buku itu merupakan sebuah amalgam gestur intelektual dari satu kolega dan enam murid, yang kini kolega budi dan profesional. Sang guru tak lain adalah Johanis Ohoitimur, guru besar di bidang Filsafat Metafisika.

Penulis merupakan salah satu murid yang dipercaya untuk mengungkapkan apresiasi ini. Tentunya, ia langsung berhadapan dengan ketidakmungkinan merepresentasi semua jenis rasa dan kedalaman pengalaman setiap murid dan kolega. Dalam keterbatasan eksistensial ini, ia mencoba merambah ranah intelektual sang guru. Nyatanya, keputusan ini lebih tampil sebagai sebuah tantangan. Berhadapan dengan tantangan demikian, keputusan ini bukanlah kemewahan untuk disombongkan. Ia justru hadir sebagai keindahan terberi yang diamini dengan kepala tertunduk dan rasa terima kasih yang dalam.

Keluasan dan Kedalaman

Sebuah buku tidak akan mampu mencakup kekayaan pemikiran sang profesor. Apalagi, sebuah artikel. Keluasan dan kedalaman pemikiran sang profesor seakan menolak dikungkung dalam suatu ruang berbatas. Di satu sisi, keluasannya membentang dari metafisika, filsafat antropologi, pedagogi filosofis, filsafat hukum, filsafat sosial, etika dasar dan terapan, hermenutika, sampai filsafat timur. Wujudnya merambah puluhan karya tulis ilmiah dan ratusan karya ilmiah populer.

Di sisi yang lain, kedalaman pemikiran sang profesor mengungkap hakekat dari semua karya tulisnya. Sebagai seorang filsuf, sang profesor menghargai lapisan periferi realitas sejauh lapisan itu menghantarnya ke dalam peziarahan intelektual yang lebih hakiki, yakni ke kedalaman. Penegasan ini melandasi pemilihan judul di atas (Per Exteriorem Ad Interiorem).

Menuju Kedalaman

Henri Bergson (1859-1941), seorang filsuf kontemporer Perancis, mengusung semangat tersebut. Ini terungkap dalam paragraf pertama dari bukunya, An Introduction to Metaphysics. Menurut Bergson, gaya menganalisis, menutur, dan pendekatan para filsuf terhadap realitas pastilah berbeda satu dengan yang lain. Namun, ia berkeyakinan bahwa mereka semua mengakui dua proses mengetahui sesuatu. Proses yang pertama menghantar kita untuk mengetahui sesuatu dari sisi luarnya. Sedangkan, proses yang kedua langsung membenamkan kita ke dalam hakekat realitas itu sendiri.

Kedua proses ini membawa konsekuensinya sendiri-sendiri. Proses yang pertama akan demikian tergantung pada pendekatan atau cara pandang yang diabdikan bagi pelaksanaannya. Sedangkan, proses yang kedua justru tergantung pada kedekatan, bahkan kemanunggalan, dengan kedalaman itu sendiri. Karena itu, gerak nalar yang mengikuti proses yang pertama sangat tergantung pada perspektif yang kita gunakan.

Sebaliknya, perspektif tidaklah relevan bagi proses yang kedua. Ia tidak mementingkan aneka instrumen, sarana, metode, serta cara pandang yang mengarahkan setiap budi yang sedang berziarah menuju ke kedalaman. Kepentingannya hanya tunduk pada satu, dan hanya satu, tujuan: menunggalkan diri dengan kedalaman itu sendiri. Di sini, Bergson dengan nyaman dan tak berbeban menyandingkan kedalaman dengan realitas absolut. Dalam hal ini, bukannya semua peziarahan filsafat merupakan penyingkiran terhadap keremehan dan lapisan periferi demi nukilan makna sang absolut?

Kesimpulan ini seakan membuat Aristoteles tersenyum. Setelah sekitar dua ribu tahun filsafat mengembara dari pemikiran sang guru sampai ke permenungan Bergson, sang filsuf Perancis abad ke-20, metafisika tetap diyakini sebagai prima philosophia, yang bertujuan untuk menguak kedalaman realitas. Walau tentu perjalanan tersebut bukanlah tanpa riak.

Merujuk pada pandangan Bergson di atas, sang profesor telah menghantar murid-muridnya dan semua kalangan yang terpapar pada tebaran ajaran dan pandangannya, untuk bergumul dengan proses menuju ke kedalaman melalui keluasan karya-karyanya. Demikian, undangan untuk mengenal cara berpikir ini dan kedalaman yang dilibatinya dibagikan kepada sebanyak mungkin orang. Konsekuensinya, cakupan gerak mencari dan memaknai kedalaman ini semakin meluas secara sentrifugal. 

Ulasan tentang keluasan dan kedalaman pemikiran sang profesor di atas menegaskan kompleksitas usaha untuk memberi batas. Setiap ranah pemikirannya seakan mengelak dari usaha pendefinisian. Definisi, jika dimengerti sebagai usaha untuk membatasi demi penjernihan, hanya akan menunjuk arah pencarian dan peziarahan ke dalam pemikirannya.

Definisi tidak akan pernah menjadi titik akhir dalam diskusi dengan pemikiran sang profesor. Tentunya, hal ini akan mengecewakan para penganut ajaran sang guru Sokrates yang mengharapkan definisi di akhir sebuah dialog pencarian makna. Dengan cara yang sama, kondisi ini akan mengecewakan para pemburu ringkasan pemikiran sang profesor.

Sebuah Pendahuluan

Tumpukan tulisan sang profesor membentang di atas meja. Ada juga yang hadir di layar komputer. Inilah konsekuensi awal dari keputusan di atas. Bantuan awal datang dari sang editor ketika berhadapan dengan keluasan pemikiran sang profesor. Pendidikan menjadi tema yang dipercayakan untuk diulas oleh penulis dalam buku itu.

Prima facie, pendidikan tampil sebagai tema yang jelas bak gumpalan awan tebal. Inilah perspektif orang yang berada dalam sebuah pesawat yang sedang membelah langit. Gumpalan tersebut berbentuk, bergaris dan berbatas jelas. Namun, kesan awal itu segera berubah. Bersamaan dengan masuknya pesawat ke dalam gugusan itu, bentuk, garis dan batas jelas tadi musnah. Indera penglihatan mulai menangkap helai-helai yang menghadirkan bentuk yang tak bernama. Yang awalnya gumpalan ternyata adalah rentangan labirin dengan akses masuk yang tentu, namun akses keluar yang rumit.

Berhadapan dengan labirin ini, sang penulis mensketsa sebuah peta jalan. Ia memulai dengan deskripsi tentang sebuah awal mula. Walau lebih bersifat personal, pentingnya bagian ini sangatlah kentara. Deskripsi ini menggambarkan secara jelas intensi luhur sang profesor dalam pendidikan. Bentangannya mencakup ranah teoretis-pedagogis, strategi pengembangan, bahkan jaminan format masa depan.

Mengungkap filsafat pendidikan sang profesor menjadi misi bagian kedua dan ketiga. Bagian kedua menelisik ketajaman dan kepekaan sang profesor dengan perkembangan kontekstual pendidikan. Ketajaman dan kepekaan ini menegaskan sifat kontemporer dan kontekstual pandangannya.

Bagian ketiga menegaskan prioritas dalam pemikirannya, yaitu peziarahan menuju ke kedalaman. Bagian ini menerima misi untuk mengungkap pentingnya metafisika, sebagai prima philosophia, dalam proses pendidikan. Pendidikan di sini tidak hanya dimengerti sebagai pola formal-informal atau kriteria kurikuler-kokurikuler-ekstrakurikuler. Ia juga dipahami sebagai konstruksi baru terhadap reka cipta nalar, persepsi rasa, dan daya karsa.

Baginya, pendidikan dalam segala keluasan makna dan keragaman praktiknya, seharusnya menjelma sebagai sebuah reformasi menetap terhadap cara berpikir positivistik sempit yang telah mewariskan antara lain materialisme, “fisikalisme”, dan “ekonomisme”. Bagian terakhir lebih merupakan undangan untuk berdikusi lebih jauh daripada sebuah titik henti.

Epilog

Di sini, penulis sebenarnya menukil bagian pendahuluan tulisannya, sebagai teaser. Kelengkapannya ada dalam buku tersebut (hlm. 151-175). Namun, tentunya buku itu bukanlah cakupan keutuhan sang profesor, yang akan senantiasa luput dari desakan definisi.(*)

Kirim Komentar