06 Feb 2020 21:55
Balon Bupati Boltim

Mengapa Harus Om Edo

MyPassion
Tauhid Arief

Oleh: Tauhid Arief

Presdir PT Totabuan Cemerlang Press

 

SUHENDRO Boroma, atau di Boltim lebih akrab disapa Om Edo atau Papa Aji, adalah satu dari sekian nama yang ikut mendaftar di PDIP dan Partai Golkar sebagai bakal calon Bupati Bolaang Mongondow Timur (Bolmong). 

Bagi saya, yang pernah bekerjasama dengan sosok ini hampir 25 tahun, pencalonannya, saya percaya, bukanlah cerminan sikap ambisius. Pilihan untuk maju dalam kontestasi kali ini, lebih pada keinginannya untuk mengeksplore kemampuan yang dimiliki untuk percepatan pembangunan Boltim.

Kalau dari kacamata rasional berdasar kemampuan dan profesionalitas, Insya Allah, tanpa takabur, tanpa berlebihan, Hendro-lah pilihannya. Hendro adalah nama akrab yang melekat padanya semenjak di Manado Post.

Namun apakah ia bisa memimpin Boltim 5 tahun ke depan? Tentu tidak semudah itu. Kemampuan seseorang hanya salah satu pendukung dalam variabel persyaratan. Kemampuan seseorang, juga kadang diabaikan untuk lolos ke step selanjutnya.

Edo, suami dari Hj Sitti Nurlaili Djenaan Spd. M.A, masih berstatus bakal calon (Balon). Dia harus melangkah lagi untuk menjadi calon. Dan, pilihan ini, sama sekali bukan lagi domainnya. Ini sudah keputusan politik partai. Keputusan "kolektif-kolegial" yang tentu finishing touch-nya berada pada pimpinan tertinggi partai di Sulawesi Utara.

Artinya, bisa saja keputusan kolektif memilih A, tapi atas dasar kebijakan politis pimpinan, pilihan yang keluar adalah B. Atau bisa sebaliknya, atau juga muncul kesepakatan bulat.

Keputusan politis dalam politik, memang terkadang mengabaikan rasionalitas. Banyak contoh untuk itu. Apalagi, seseorang dimaksud, bukanlah kader. Bayangan dan penilaian luar, kadang bagai langit dan bumi dengan penilaian internal partai. Tapi terkadang juga, penilaian dari luar jadi satu masukan pada keputusan.

Kembali kepada profil Edo, yang saya kenal sebagai sosok yang low profile, disiplin dan pekeja (pemikir) keras. Dia lahir dan besar dalam proses alamiah, anak desa. Ia memahami persoalan sawah, karena ini adalah bagian hidup dan kehidupannya di masa anak-anak dan remaja.

Ayah dari seorang anak laki-laki, Kurnia Sahrul Fajri Boroma --sempat kuliah di IOWA Of University, AS, selama 2,5 tahun dan saat ini kuliah lagi di Universitas Parahyangan, Bandung---, sangat memahami arti kemiskinan, semangat dan perjuangan hidup.

Saat masih SMP dan SPG (Sekolah Pendidikan Guru). menurut cerita teman dan saudaranya di Kotamobagu --saya sempat bertugas 2 tahun di Kotamobagu--, Edo banyak menghabiskan waktunya menggarap sawah dengan paman pamannya. Bila libur atau pulang sekolah, persawahanlah jadi "tempatnya bermain". 

Jangan heran kalau sampai sekarang saja, ia masih menyempatkan diri menengok sawah. Memahami varietas-varietas unggul. Sense pada suasana kampung dan kehidupannya masih melekat. Jagan heran, saat pulang kampung, misalnya, di mobilnya ada pupuk dan obat semprot hama.

Ia memang dikenal mandiri. Apalagi, Ayahnya Ahmadi Boroma -Kepala Desa Togid periode 1960-1970-- berpulang keharibaan-NYA saat Edo duduk di kelas 2 SMP. Edo pun hidup dengan pamannya di Kotamobagu selepas SMP hingga tamat SPG.

Beruntung kemauan dan tekad untuk melanjutkan studi di bangku kuliah, tak surut dengan keterbatasan ekonomi. Ilmu sebagai guru dijadikan dasar kerja sampingan untuk anak-anak yang butuh les privat. 

Inilah salah satu cara bertahan hidup dan berjuang menyelesaikan Sarjana/ SI di IKIP Manado. Nanti setelah bekerja di Manado Post, ia melanjutkan S2 di Unsrat dengan konsentrasi ilmu ekonomi dan statistik.

Kalo pun Edo bisa meraih karirnya saat ini, itu melalui perjuangan yang tidak mudah. Termasuk betapa hebatnya perjuangan sang ibu Hj Pingku’ Paputungan, yang bertahan hidup, dan membesarkan Hendro beserta 11 saudara lainnya.

Begitu juga soal disiplin. Ukuran disiplin Edo di mata saya, antara lain, soal menjaga kebugaran, makan dan kerja. Setiap pekan, paling tidak, ada tiga kali ia melakukan jogging secara teratur. Teratur di sini adalah soal waktu. Dimulai dengan jalan kaki, kemudian jalan cepat dan berlari kecil. Semuanya terukur dalam durasi waktu.

Setahu saya juga, Edo suka berenang. Dulu, sekira 20 tahun lalu, saat sering menemaninya mandi di kolam renang favoritnya, di Sahid Hotel, Teling. Tidak terlalu ramai, tapi kolamnya ideal. Saya melihat sendiri, ia mampu berenang ratusan meter tanpa henti. Memang saya tidak menghitungnya. Berapa kali bolak balik. Yang saya tahu, dia berenang gaya bebas tanpa henti, lebih dari satu jam. Ini telaten dan rutin ia lakoni.

Begitu pun soal makan. Setahu saya, tak ada pantangan makanan karena faktor kesehatan. Kalaupun ada, hanya beberapa jenis makanan saja yang sedari dulu memang tidak ia sukai. Misalnya jenis daging. Termasuk daging ayam. Saya juga tidak tahu alasannya. Tapi memang dia sendiri tidak suka. Tak pernah saya melihat dia makan daging ayam, meskipun kami berada di rumah makan padang. Dia pasti memilih selain itu.

Saya tahu karena saya sering makan dengannya. Bila sedang berada di Ternate, ia sangat lahap makan ikan bakar atau katang kanari saus padang. Namun kalau disuruh memilih, Edo pasti lebih memilih makan makanan kampung. Ubi atau pisang dengan lauk ikan bakar berpasangan sambal yang tidak terlalu pedas. Makanan inilah favoritnya. Cara makan pun sunnah, tanpa sendok. Begitu pun minum. Lebih senang air mineral. Tak pernah saya melihatnya minum teh manis atau pun kopi. Ia lebih banyak menghindarinya.

Ia juga disiplin dalam menjaga sholat wajib dan sunnahnya. Pun begitu pula dengan puasa. Puasa Senin-Kamis, dilakoninya sejak lama. Juga puasa selang seling, puasa Daud. Sampai sekarang dijalaninya.

Soal kerja, dijalani penuh tanggungjawab. Saya tahu, karena, sejak awal di Manado Post sebagai wartawan (tahun 1992), saat kantor masih di seputaran Tikala, orangnya telaten dan penuh tanggungjawab. Praktis halaman (rubrik) yang menjadi tanggungjawabnya tak pernah melewati deadline.

Edo bergabung di Manado Post pada 1992. Sebelumnya, Edo adalah volounteer di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado. Bersama salah salah satu temannya, Frangky Wongkar, yang aaat ini menjabat Wakil Bupati Minahasa Selatan.

Frangky ketika itu, adalah anak muda, sarjana hukum, dan pengacara di LBH. Yang ketika itu dikendalikan Herry Mangindaan SH (alm). Lama ia berkutat mendampingi warga yang butuh bantuan hukum secara gratis. Atau, bersama Edo melakukan advokasi di lapangan. 

Selain advokasi sejumlah persoalan warga yang termarginalkan, Edo juga memegang jabatan sebagai Sekretaris Walhi (LSM yang peduli soal lingkungan).

Dari volunteer di LBH dan sekretaris di Walhi, persoalan-persoalan yang ditemui, atau ditangani inilah, kemudian diolah menjadi tulisan opini, yang sering terekspos pada media lokal, khususnya Manado Post.

Tugas di Walhi dan LBH, mulai ditinggalkan saat Manado Post membuka lowongan untuk posisi wartawan. Nama Edo pun masuk bersama sejumlah pelamar lainnya. Ada Katamsi Ginano, Ais Kai, Verijanto Madjowa dll. Mereka lolos seleksi administrasi. Selanjutnya; tes wawancara dan tulis. Nama Edo tidak masuk. Ia tak lolos berkas hanya karena usianya saat itu sudah mendekati 26 tahun. Sementara syarat usia dipatok 25 tahun.

Wartawan senior, Asdar Muis, dari koran Fajar Makassar (Jawa Pos Group) yang ditugasi menyeleksi dan menyaring, tak meloloskan nama Edo.

Beberapa lama kemudian, sekira 2 bulan, disaat wartawan baru sudah turun lapangan, Imawan Mashuri, yang secara de facto adalah Pemimpin Redaksi (Pimred), memanggil saya di ruangannya.

Imawan bertanya; "Kamu kenal dengan Suhendro Boroma?"

"Kenal, Mas!" Jawab saya.

"Dia kerja di mana? Bagaimana orangnya?"

"Orangnya baik. Tak banyak bicara. Setahu saya dia beraktivitas di Walhi dan LBH," ungkap saya. "Ada apa, Mas? Tanya saya.

"Kalo saya nilai juga begitu. Orangnya bijak dan tidak arogan. Saya tahu dari tulisan-tulisan di halaman opini. Kamu bisa hubungi, dan ketemu saya," ujar Imawan Mashuri yang kami panggil "Mas" karena saat itu usianya belum 30 tahun dan masih bujang.

Saya pun menghubungi. Setelah itu sudah tidak tahu jelas apa pembicaraan Edo dan Imawan. Tapi yang pasti, beberapa hari kemudian, ia langsung didapuk jadi redaktur halaman opini. Posisi orang orang kritis, karena salah satu tugasnya adalah, menyeleksi layak atau tidaknya tulisan seseorang untuk dimuat di koran. Saya sendiri, ketika itu, mempunyai tugas sebagai redaktur untuk rubrikasi kota. Posisi yang sederajat dengan Edo.

Lama bertanggung jawab di halaman opini, ia lalu diberi tanggungjawab menggawangi halaman etalase/halaman depan. 

Karirnya terus menanjak. Hingga berapa tahun kemudian, ketika kantor sudah berada di kawasan Rike, ia menggantikan posisi Imawan Mashuri, sebagai peminpin redaksi secara de facto. Sedangkan Benny Raintama, Manajer Keuangan, menggantikan posisi Imawan sebagai direksi.

Tahun 2003, saya ditunjuk manajemen menahkodai koran baru di Ternate. Namanya Malut Post. Selain sebagai general manager dalam manajemen, tugas lainnya adalah memikul tanggungjawab sebagai pemimpin redaksi sampai 2007. 

Sementara di Manado Post, karir Edo terus meroket. Menggeser posisi Benny. Ia masuk jajaran direksi, sebagai Direktur Utama, sekaligus CEO dalam Manado Post Group. Ia berpasangan dengan Urief Hasan, Direktur Keuangan.

Tak lama, manajemen di Malut Post Ternate diperkuat. Oleh Edo, saya dipromosikan sebagai Presiden Direktur. Dan bertanggungjawab secara otonom pada dua perusahaan, penerbit dan percetakan. Tugas ini saya jalani sampai sekarang.

Otonom dimaksud, adalah kekuasaan penuh untuk membuat apa saja, demi pertumbuhan perusahaan. Saya diberi kewenangan menata gaji karyawan, termasuk besar kecilnya, insentif dan bonus. 

Saya diberi kewenangan penuh, membeli dan menggunakan kendaraan apa saja, sesuai kemampuan perusahaan. Hanya saja, untuk gaji saya, tentu bukan atas dasar keinginan saya semata. Semuanya diatur Edo dan Urief Hasan.

Salary yang saya dapatkan saat itu, lebih dari cukup. Melonjak gila-gilaan. Lebih dari 100 persen. Edo benar-benar melaksanakan reward dan punishment.

Jujur, saya berani bersumpah, selama saya memimpin koran di Ternate, tak sekali pun Edo menggunakan jabatannya sebagai CEO, melakukan hal hal yang menyimpang untuk kepentingan pribadinya.

Sekarang ini saya memang tidak bekerja lagi bersama Edo. Ini karena adanya persoalan manajemen di tingkat "dewa". Kami berpisah secara grup. Saya bersama Urief Hassan berada pada jalur Dahlan Iskan dan Imawan Mashuri, sementara Edo tetap di jalur Jawa Pos. Artinya kelompok Jawa Pos terbelah dua. Dari situlah, kami berpisah dalam jaringan lantaran situasinal dan kondisional.

Tapi hubungan habluminannas tetap jalan. Saling bertegur sapa bila ketemu. Intermezo, cerita kabar masing masing. Apalagi, saya tetap menghormatinya sebagai teman dan mantan pimpinan saya.

Kalau pun saya menulis ini, itu karena hormat saya pada sikapnya saat memimpin kami. Saya salut kepadanya. Sunguh, saya menulis testimoni dengan apa adanya. Menulis untuk sekadar memberi pesan kepada siapa saja yang belum mengenal sosoknya. Yang mana sosok yang saat ini masuk dalam nominasi kandidat calon Bupati Boltim. 

Soal karirnya yang terus melejit, bagi saya, semata-mata karena kemampuannya. Saking menonjolnya kemampuan Edo, ia dipercaya memimpin grup JPG (Jawa Pos Grup). Grup media yang membawahi sekira 200-an media cetak seantero Indonesia, dan tak kurang 50 media TV. Ini luar biasa. Anak Togid Boltim, Sulawesi Utara. Orang pertama di luar Jawa mengendalikan ratusan perusahaan yang berbasis di Surabaya.

Ketika itu, 15 tahun lalu, posisi itu sangat bergengsi. Tugasnya antara lain, mengevaluasi konten, termasuk perusahaan secara keseluruhan, bila ada gejala gejala 'kurang baik'. Dia bisa merekomendasi perbaikan sekaligus pergantian direksi pada koran-koran tersebut.

Karena tugas itulah, waktunya hampir lebih banyak di luar, di atas udara. Ini juga yang membuat jarang berada di Boltim atau turun ke bawah. 

Dalam sehari saja, kadang sarapan di Manado, makang siang di Surabaya, tidur di Riau. Begitu pula yang dijalani hampir 15 tahun belakangan.

Meski memiliki jaringan di Jakarta, tapi Edo sebenarnya lebih suka di Manado. Lebih suka pulang kampung di Togid, atau pulang kampung Istrinya, di Saleo, Bolmut. Ini dilakukan bila ia ke Manado dan punya waktu luang 1-2 hari.

Terkadang baru semalam di kampung, telepon masuk. Untuk segera berjumpa dengan temannya. Pernah satu ketika, dan ini sudah berlangsung beberapa kali, bos Lion Group, Rusdi Kirana menelepon untuk sama-sama menjemput pesawat baru pesanan Lion di bandara pabrik pesawat Boeing, di Seatle, AS. Hal yang sama juga dilakukan ke pabrik Airbus di Prancis. Saking dekatnya dengan Rusdi Kirana, Edo pun ikut mempengaruhi Lion Group berinvestasi di Sulut. Bahkan bila tak ada pertentangan dengan Menteri Perhububgan saat itu, Bandara Sam Ratulangi jadi pusat "penampungan pesawat Wings edisi terbaru".

Ini hanya salah satu dari banyak jaringan yang bisa dimanfaatkan, saat, nantinya, Insya Allah, bila diamanahkan memimpin Boltim.

Karena itu, bagi saya, tidak ada keraguan, bila Edo mencalonkan diri. Tidak ada keraguan saya, ia melakukan tindakan korup. Sebaliknya yang saya bayangkan, banyak hal baru yang muncul di Bolmong, yang mungkin belum dipikirkan daerah lain. Apalagi perjalanan ke semua daerah di Indonesia, telah dijalani. Ini tentu menjadikan kaya khasanah dan wawasan sebagai modal men-direct Boltim lebih maju, bermartabat dan sejahtera. Insyaa Allah...Amiin.***

Kirim Komentar