30 Jan 2020 10:12

Bangkit Capai 200.000 Turis

MyPassion
Oleh Suhendro Boroma

VIRUS Corona dari Wuhan, China berdampak ke Sulut. Lion Air melakukan penghentian sementara (suspends) penerbangan ke Manado dari Guangzhou, Changsha, Tianjin, Shanghai, Xianyang, Nanjing, Hangzhou, Fuzhou, dan Guiyang sampai pemberitahuan lebih lanjut (until further notice). Penghentian sementara ini mencakup semua penerbangan Lion dan Batik Air dari China ke Manado, Batam, Denpasar, dan Jakarta.

“Keputusan penghentian sementara merupakan bagian dari langkah antisipasi berdasarkan pemberitahuan larangan perjalanan dari otoritas Wuhan mengenai dampak wabah virus corona.’’ Begitu keterangan Danang Mandala Prihantono, Corporate Communications Stategic Lion Grup, Selasa (28/1).

Dari pemberitaan berbagai media massa, dalam waktu singkat virus corona sudah menjalar hingga ke 17 negara: China, Malaysia, Uni Emirat Arab, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Singapura, Australia, Amerika Serikat, Kamboja, Nepal, Kanada, Sri Lanka, Francis, Vietnam, Jerman. Di China sendiri, asal-mula virus yang diduga berasal dari ular dan kelelawar itu, sudah terjadi 6.056 kasus dengan korban meninggal mencapai 132 orang.

Langkah Lion Grup melakukan suspends penerbangan dari dan ke China ini sebagai upaya nyata agar virus corona tak masuk Indonesia. Ini prosedur resmi dan standar untuk memastikan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penumpang dan kru pesawat (ensure the safety, security and comfort).

Bukan berarti otoritas dan pengelola bandara-bandara di Indonesia tidak sigap. Juga tidak meragukan kemampuan dan langkah antisipatif yang telah dan sedang dilakukan pemerintah pusat, dan Pemprov Sulut. Kita juga menghargai berbagai upaya yang sudah dan sedang dilakukan para pelaku industri pariwisata, khususnya MM Travel. Kita amat menghargai semua pihak yang menerapkan standar tinggi dalam bisnisnya: menomorsatukan penyelamatan dan perlindungan terhadap manusia.

Semua upaya tersebut membuat Indonesia masih aman dari wabah virus corona. Ini patut kita syukuri dan apresiasi. Karena negara-negara maju pun seperti Amerika Serikat, Francis, Jerman, Jepang, Korsel, dan Singapura sudah dibobol  wabah virus corona.

Baiknya semua pihak mendukung upaya-upaya pemerintah pusat, Pemprov Sulut dan semua pihak untuk memastikan wabah virus corona jauh dari darat, laut dan udara Indonesia. Saling memperkuat satu sama lain, bersinergi dan berupaya meneduhkan suasana agar langkah-langkah antisipatif dan preventif berjalan efektif dan tepat sasaran. Membuat kegaduhan dan kekeruhan di situasi seperti saat ini merupakan hal yang tak bertanggung jawab.

Kerjasama dan langkah-langkah kongkrit untuk segera memulihkan situasi hendaknya kita kedepankan. Paling baik, Sulut dapat menjadi contoh di Indonesia tentang penanganan pencegahan terhadap wabah virus corona. Hendaknya semua pihak mendukung upaya-upaya ke arah ini. Sebab, dengan begitu, semua kegiatan ekonomi yang terhenti akibat penyebaran wabah virus corona ini dapat segera berjalan lagi.

Paling utama menghidupkan kembali penerbangan ke China. Sebab, inilah kunci utama mengalirkan turis ke Sulut. Sejak dibukanya penerbangan langsung Manado ke kota-kota utama di China, turis negeri tirai bambu itu membanjiri Nyiur Melambai. Tahun 2016 turis China ke Sulut mencapai 27.304. Naik dua kali lipat pada 2017, menjadi 63.076. Naik tajam pada 2018 sebanyak 107.075, dan pada 2019 sudah mencapai angka 116.150. Proporsi turis China ini lebih dari 60% dari total turis mancanegara yang berkunjung ke Sulut pada periode 2016-2019.

Kerap muncul pertanyaan dampak kedatangan turis China ke Sulut. Tanpa berpanjang lebar, satu saja yang disebutkan di sini: pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Likupang. Investasi swasta untuk membangun berbagai fasilitas di KEK Likupang mencapai Rp750 miliar, investasi di tahun pertama mencapai Rp164 miliar. Pemerinta pusat menggelontorkan triliunan rupiah untuk membangun kawasan seluas 197,4 hektare di KEK Likupang. Diperkirakan KEK Likupang bakal menyerap 65.300 tenaga kerja berbagai strata.

Sudah bawaannya industri pariwisata punya multiplayer effect berantai. Mampu meningkatkan permintaan terhadap produk-produk pertanian, perikanan, peternakan, menaikkan tingkat hunian hotel, melariskan restoran, dan meningkatkan frekuensi aneka alat transportasi publik dan pribadi. Bandara dan penerbangan jadi ramai, souvenir shop laris manis, guide panen, dan kursus Bahasa Inggris dan Mandarin banyak peminat. Masih banyak ikutannya seperti jalan, jembatan, telepon, fasilitas di obyek wisata hingga rest room harus disediakan dengan standar yang baik. Semua itu secara simultan maupun sektoral memacu pertumbuhan ekonomi.

Sudah sifatnya pariwisata merupakan sektor ekonomi yang punya peluang tinggi untuk melakukan redistribusi pendapatan. Itu karena banyak pihak yang terlibat dalam industri ini. Kelebihannya yang tak dimiliki industri lain: cepat panen. Lebih cepat dari jagung. Atau rica (cabe). Bahkan lebih cepat dari sayor gedi.

Membangun pabrik gula butuh waktu hampir dua tahun untuk bisa berproduksi. Pabrik ikan kurang lebih sama. Pabrik-pabrik lain juga butuh tahunan. Bangun restoran, hotel, dan souvenir shop butuh waktu paling cepat setahun untuk mulai menghasilkan uang.

Turis dari Shanghai tiba di Manado hari ini langsung menghasilkan devisa. Bahkan sebelum kedatangannya ke Manado, sudah harus mengeluarkan uang untuk membeli tiket pesawat, booking hotel, beli paket tur lengkap dengan mobil/bus, guide, dan tempat makannya (restoran).

Bagi Sulut, industri pariwisata adalah keniscayaan. Sekaligus masa depan. Juga, sebagai “rasa syukur” terhadap karunia keindahan panorama alam bagi daerah Nyiur Melambai. Kesyukuran itu diwujudkan dengan mendayagunakan dan mengelolanya secara lestari untuk kemakmuran banyak orang.

Industri pariwisata di mana pun di dunia ini menyangkut hajat hidup banyak orang. Dari hulu ke hilir. Dari kelas atas hingga kelas bawah. Dari pendapatan tinggi hingga pendapatan rendah. Dari yang sekolah pas-pasan hingga orang yang menguasai multi bahasa. Pendek kata, berkontribusi berantai pada berbagai sektor ekonomi.

Maka, sudah sewajarnya berbagai komponen warga Sulut mendukung dan mendorong Pemprov untuk segera memulihkan pariwisata Sulut. Khususnya segera melanjutkan lagi penerbangan dari kota-kota utama di China ke Manado. Kita yakin, Gubernur Olly Dondokambey, Wakil Gubernur Steven Kandow bersama jajarannya, dapat melakukan banyak terobosan untuk membuat pariwisata Sulut segera bangkit lagi. Untuk kita capai target kunjungan di 2020 di angka 200.000 turis.

Tidak semestinya virus corona merengut target itu.***

Berita Terkait
Kirim Komentar