18 Des 2019 14:30

Kesalahan Sistem Pendidikan Penyebab Kekerasan di Sekolah

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOST.ID--Kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah tidak bisa dianggap sebagai sebuah kasus semata, namun harus dilihat sebagai kesalahan sistem pendidikan.

Hal ini diungkapkan Akademisi Sulut Dr Wolter Weol. Ia mengatakan, selayaknya kemampuan sosial emosi mestinya menjadi agenda utama pendidikan Indonesia. "Caranya melalui penciptaan ekosistem sekolah yang positif, aman, menyenangkan dan memanusiakan," ujarnya

Dosen senior IAKN tersebut juga mengatakan, guru dan siswa adalah dua elemen penting yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan. "Hubungan antara keduanya kadang berjalan harmonis, namun tidak jarang juga bersifat kontradiktif sehingga sudah saatnya pengajar harus mulai disetting ulang," katanya.

Ia mengatakan harus ada transformasi sistem pendidikan yang membuat para siswanya senang dan nyaman di sekolah. "Disisilain menanamkan nilai-nilai empati pada seluruh elemen sekolah, maka tindak kekerasan di sekolah dapat dipangkas," ujar Weol

Dia menambahkan semua pihak di sekolah seharusnya menjalin komunikasi dengan baik, ada kesepakatan yang mengikat semuanya dalam bentuk kode etik. "Kode etik sekolah dibuat bersama-sama antara sekolah, anak, dan orang tua agar tercipta ekosistem yang terbuka. Kode etik inilah yang nantinya digunakan apabila terjadi permasalahan di sekolah," katanya.

Sementara Pengamat Lainya Djouhari Kansil mengatakan maraknya kasus yang terjadi didunia pendidikan sekarang ini, akibat berkurangnya kontrol sosial dan kepedulian masyarakat sekitar terhadap dunia pendidikan. "Akibat ketidak pedulian ini tentunya sangat berdampak buruk, bagi dunia pendidikan, sebab lingkungan sosial memang cukup berpengaru membetuk karakter siswa. Dan jika gurunya kurang peka, ini yang akan menjadi kendala," terang dia

Disisi lain lanjutnya, kebanyakan orang dewasa termasuk guru seringkali enggan untuk menurunkan ego dan mengakui kesalahan di depan anak-anak karena merasa superioritasnya akan hilang.

"Padahal dengan meminta maaf ketika melakukan kesalahan, koneksi akan semakin terbangun dan anak-anak akan belajar bahwa melakukan kesalahan itu tidak apa-apa asalkan bertanggung jawab dan mengakuinya,” kuncinya.

Sekedar informasi, studi Programme for International Student Assessment (PISA) yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), Sekitar 88% siswa di Indonesia (rata-rata OECD: 74%) setuju atau sangat setuju bahwa guru mereka menunjukkan kegembiraan dalam mengajar.

Menurut PISA, Anak-anak yang menyukai gurunya cenderung senang dengan apa yang guru sampaikan. Perasaan benci, kecewa, dan tidak nyaman membuat anak-anak tidak akan bisa mempelajari sesuatu dari orang yang tidak mereka sukai. (asr/don)

Kirim Komentar